Wednesday, 20 February 2019

Story About Diandra 03 (Tentang Arti Bersyukur)

Pagi hari pukul setengah tujuh. Waktu itu saya lagi sarapan bubur ayam, saya makan berdua bareng sama Diandra di tempat langganan makan bubur tepatnya di bubur ayam syarifah di depan GOR UNY. Setelah saya selesai makan, saya cek handphone karena ada notifikasi WA dari temen saya yang ngajak minum kopi nanti malam. Selesai saya  bales WA, lalu saya kembalikan arah pandangan saya ke wajah Diandra yang sedang minum dengan menghisap es teh menggunakan sedotan tetapi pandangan matanya menyebar kesegala arah. Sedangkan gelas tempat minumnya sudah tidak berisi air teh dan hanya tersisa serpihan es yang perlahan mulai mencair.



Dalam benak saya sedikit curiga karena nggak bisanya dia diam dengan durasi lebih dari empat menit. Saya mulai menerka-nerka dalam batin saya, apa mungkin dia baru mau kedatangan tamu bulanan, atau dia lagi ada masalah, atau hmm.. ahh entah lah. Saya menghentikan percakapan batin saya dengan mengambil gelas minum saya yang berisi teh hangat yang sudah mulai dingin dan sudah tak tampak lagi uap-uap yang tadinya mengepul naik dari mulut gelas. Disaat saya sudah berhasil mempertemukan ujung bibir gelas dengan bibir saya tiba-tiba Diandra teriak.

"Ehh Wan.. liat tuh ada cewek bule seksi gede banget itunya!"
Ucap Diandra sambil menjulurkan tangannya untuk menunjukan arah.

Spontan saya langsung memutar pandangan saya ke arah yang ditunjuk Diandra dengan isi kepala yang penuh rasa penasaran dari ucapan Diandra dengan kata-kata "gede banget itunya" dan sejauh mata saya  memandang di sepanjang Jalan Colombo sekitar GOR UNY, saya sama sekali nggak menemukan orang dengan rambut pirang dan hidung mancung selayaknya ciri-ciri orang bule pada umumnya. Yang saya temukan hanya tukang becak yang sedang duduk menunggu penumpang dan Bus TransJogja yang tiba-tiba lewat. Setelah saya mulai bosan mencari, lalu saya kembalikan pandangan saya ke arah Diandra.

"Mana? Nggak ada bule lewat?" Tanya saya sedikit kecewa karena gagal mengobati rasa penasaran.
"Yahh.. Udah lewat tadi, padahal tadi ada lho. Cepet banget itu bule jalan apa lari ya?"
Kata Diandra asal ngeles.
"Ahh bohong ah, emang apanya yang gede?"
Tanya saya memastikan rasa penasaran yang belum terobati.
"Tas carriernya itu lho yang gede, dia itu tadi bawa tas carrier. Kamu pikir apa? pasti kamu mikir yang jorok kan! Dasar cowok jorok!"
Jawab Diandra ketus.
"Halah pasti kamu bohong kan!"
Kata saya curiga dengan perasaan yang nggak enak.
"Nggak percaya ya udah."
"Ehh.. Itu yang kamu minum bukannya gelas punya ku ya?"
Tanya saya  yang kaget karena tiba-tiba gelas minum Diandra masih terisi penuh.
Dan ini adalah buah kecurigaan yang saya tanam sejak tadi melihat keanehan Diandra yang tiba-tiba diam tidak seperti biasanya. Jadi dia berusaha nge-distract saya dengan bilang kalo ada bule seksi yang lewat dan saat saya lengah karena ter-distract, lalu dia dengan sigapnya menukar gelas minum saya.

"Dihh.. enak aja, orang ini minum aku, itu yang di depan kamu tuh punyamu yang udah abis. Mentang-mentang udah abis ngaku-ngaku punya orang. Pesen lagi aja sana kalo masih haus!" Jawabnya sewot. Padahal aturan saya yang sewot, kan itu minuman saya yang dia minum. Tapi saya cuma bisa pasrah yang penting dia nggak ngambek aja.
"Yaudah aku bayar dulu aja ya." Kata saya dengan nada yang santai agar tidak memancing peperangan.
"Iyaaa..." Jawab Diandra dengan wajah bahagia.

Selesai sarapan, saya langsung anterin Diandra pulang naik motor ke kostnya karena sebelumnya dia bilang ada temennya yang mau main ke kost dia. Nah, dibalik sosok Diandra yang galak, cerewet, suka ngeles, sering ngerjain saya dan banyak hal lainnya yang terkadang menjengkelkan, ternyata dia juga menyimpan sisi baik yang selalu berhasil buat saya jatuh hati sama seperti cerita Diandra di posting yang sebelumnya. Seperti dua mata koin setiap orang selalu memiliki dua sisi yang berbeda dan begitupun dia, kira-kira mungkin seperti itu gambarannya. Saat perjalanan nganter Diandra  pulang ke kost, tiba-tiba dia minta saya buat mampir ke Indomaret yang ada ATMnya, dia bilang.

"Wan, nanti mampir Indomaret yang ada ATMnya bentar ya. Aku mau ambil uang sekalian beli pembalut." Ucapnya.
"Syiapp.. nyonyah!" Jawab saya.

Sampai di depan Indomaret, Diandra turun lalu bergegas masuk dan menghampiri mesin ATM. Tidak begitu lama Diandra keluar dari Indomaret dengan mendorong pintu  yang harusnya dia tarik karena pada gagang pintunya tertulis "Tarik/Pull" lalu berjalan begitu saja, tapi tidak menuju ke arah saya. Dengan rasa penasaran, bola mata saya serta arah pandangan wajah saya bergerak mengikuti arah Diandra berjalan. Terlalu seringnya Diandra menyimpan gimmick-gimmick usil yang sering mengecoh, membuat saya selalu curiga dengan segala tingkahnya. Dalam hati saya bilang.

"Ini anak mau kemana lagi nih? Mau pulang jalan kaki? Atau jangan-jangan ada orang lain yang jemput dia?"

Tapi ternyata semua dugaan saya itu salah. Diandra menghampiri seorang ibu yang sudah cukup tua yang duduk bersandar di dinding di depan samping Indomaret. Raut wajah ibu itu tampak lelah dan berkeringat tapi bibirnya tetap bisa tersenyum lebar saat Diandra menghampirinya. Dia menjual Ubi, Jagung, Singkong dan beberapa buah-buahan yang ditata berjejer rapi di depannya. Di depan pandangan saya terlihat jelas Diandra juga ikut tersenyum bersama ibu itu. Saya nggak tau persis percakapan apa yang sedang mereka bicarakan, tapi yang jelas bisa saya rasain adalah saya ngrasa ikut senang melihat mereka.

Tiba-tiba saya nggak sengaja melihat ada cahaya kecil berkilau yang tampaknya itu adalah air mata si ibu yang menetes lalu mereka berpelukan. Tentu saja hal itu membuat saya terkejut dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang mereka bicarakan. Setelah itu Diandra berdiri dan berjalan menuju ke arah saya dengan senyum cerah di wajahnya.

"Ibu itu kasihan ya." Ucap saya dengan masih memandangi ibu itu dari jauh
"Heh..! Kamu nggak boleh gitu." Sahut Diandra yang sudah ada dihadapan saya.
"Loh.. Kenapa?"
"Nih aku kasih tau ya, ibu itu walaupun udah tua tapi masih mau usaha buat jualan dan nggak ngemis. Sikap yang harus kamu tunjukin itu bukan kasihan tapi kamu harusnya menghargai usahanya. Karena nggak semua orang ingin dikasihani, tapi setiap orang pasti ingin dihargai. Nih, aku beli dari ibu itu" Kata Diandra sambil menunjukan beberapa ubi ungu yang dibungkus plastik yang dia bawa.
"Ohh.. iya..iya.."
"Jangan cuma Ohh aja, kamu harusnya juga malu sama ibu itu. Masa baru gagal bikin usaha sekali aja udah nyerah, coba lagi lah siapa tau gagal lagi usahanya.. hahaa.."
"Kok endingnya gak enak sih?"
"Hahahaa.. Ya nggak gitu, maksudnya kalau yang namanya usaha kan nggak selalu langsung bisa berhasil ada prosesnya. Siapa tau abis gagal terus bisa berhasil."

Begitu kata Diandra, dari situ saya jadi tau kalau ada sisi baik dari Diandra yang selama ini selalu tertutupi dari sifat jailnya. Dan dari Diandra juga, saya jadi tahu tentang arti bersyukur yang sebenarnya. menurutnya, bersyukur itu bukan ketika berkata "Alhamdulillah, ternyata masih ada banyak orang yang masih tidak seberuntung aku." Walaupun diawali dengan kata Hamdallah, menurut Diandra itu bukanlah wujud dari rasa syukur tetapi itu justru menggambarkan kesombongan secara tidak langsung. Diandra pernah bilang.

"Kalau kamu merasa jadi orang yang beruntung lalu kamu bersyukur itu seolah-olah kamu merendahkan orang lain yang masih belum beruntung. Bersyukur itu bukan dengan merasa beruntung dengan apa yang sudah kamu dapat, tapi juga harus bisa berbagi dengan hal-hal yang bermanfaat."

Sejak saat itu saya merasa beruntung pernah dekat dengan Diandra, dan dengan saya membagikan cerita ini harapannya bisa bermanfaat buat kalian yang baca. Karena buat orang yang introvert dan anti sosial semacam saya, bisa dekat dengan orang yang memiliki jiwa sosial dan bisa memahami keadaan dari sesamanya itu semacam anugerah. Ya walaupun pada akhirnya saya dan Diandra kembali dipisahkan oleh takdir, tapi setidaknya ada hal positif dari Diandra yang bisa saya  ambil.





Bersambung...

Friday, 16 November 2018

Story About Diandra 02

Ini adalah cerita lanjutan dari Story About Diandra 01. Cerita kali ini akan mengisahkan tentang betapa jailnya sosok Diandra yang kadang suka bikin saya malu kalo pas lagi saya ajak jalan keluar. Tapi, ada kalanya orang yang biasanya jail, suka iseng atau suka ngerjain dan sejenisnya itu kadang juga bisa ngangangenin, heran saya.
Awal ceritanya dimulai waktu saya ngajak Diandra makan di cafe di daerah Kotabaru Yogyakarta yang pernah saya ceritain di tulisan
Story About Diandra 01. Jadi ceritanya setelah saya selelsai makan bareng Diandra, saya nganterin dia pulang ke kostnya dari daerah Kotabaru Yogyakarta saya anter lewat Jalan Suroto dan pas sampai di traffic light perempatan Gramedia(untuk yang pernah ke Jogja mungkin tau) Saya berhenti. Ngliatin ke arah timer yang ada di traffic light sambil ngurangin gigi motor saya dari gigi empat ke gigi satu. (FYI: motor saya Honda Supra X 125R bukan lagi iklan ya)

"Klik..klik..klik.."
Terdengar tiga kali suara gigi motor yang saya  kurangin dari gear empat ke gigi satu.

Sedangkan Diandara yang duduk di boncengan di belakang saya tampak asyik dengan bermain game di smartphonenya, sambil saya lirik dari kaca spion sebelah kiri saya. Kemudian saya kembalikan arah pandangan saya ke depan ke arah timer traffic light. Dan tidak lama setelah itu ada suara motor dari belakang, dari spion sebelah kanan saya lihat ada Yamaha Vixion warna hitam yang kemudian berhenti tepat di sebelah kanan di samping saya.

Setelah berhenti, mas-mas Yamaha Vixion sebelah saya pun mengurangi gigi motornya. Saya nggak terlalu ngeh sih, cuma denger suara tuas giginya beberapa kali "klik..klik..klik.." tapi tiba-tiba setelah suara yang terakhir saya ngrasa motor saya sedikit goyang. Saya noleh kesamping kanan sambil lihat ke bawah dan berpikir.

"Apa motor mas Yamaha Vixionnya nyenggol motor saya ya, apa kena bagian kenalpot? Apa kena bagian Footstep?" Pikir saya sambil saya  liatin ke samping kanan bawah, tapi saya nggak liat motor saya dan motor mas Yamaha Vixion saling bersenggolan karena ternyata ada jarak yang cukup sekitar satu langkah kaki manusia dewasa.

Terus saya alihkan pandangan saya ke arah spion ngliat Diandra, dia masih tetap asyik dengan gamenya. Pikir saya , "Ahh.. Paling gara-gara Diandra main game sambil gerak-gerak jadi motornya goyang." Sesederhana itu saya berusaha positif thinking. 

Pandangan saya kembali ke posisi default ke arah depan dan nggak lama lampu hijau pun menyala. Lalu tangan kanan saya langsung auto muter handle gas tapi motor saya nggak jalan dan hanya terdengar suara mesin meraung dari knalpot

"Rrrrrrngggg...!!!"

Spontan mas Yamaha Vixion di samping saya yang sudah jalan pelan hampir melewati zebra cross langsung noleh ke kiri ke arah saya  sambil ngliatin saya dan terdengar suara berdecit dari ban motor yang bergesekan dengan aspal karena putarannya terhenti mendadak yang disebabkan oleh piringan cakram motor Yamaha Vixion yang terjepit kampas rem dari kaliper dengan dua piston.

"Ciitttt...!"

Mungkin dia ngira kalo saya nantangin soalnya suara motor saya ngegas banget. Dan saya panik, dari arah belakang suara klakson pun mulai berisik dan ditambah Diandra yang tiba-tiba ngagetin saya, mukul kepala saya dari belakang pakai dompetnya dia yang panjang sambil bilang.

"Dimasukin dulu giginya, emangnya kamu pikir lagi naik motor matic?!"

Dipukulnya sih nggak sakit, soalnya saya kan pake helm cuma malunya itu gaes, berhenti di traffic light paling depan dalam keadaaan panik. Saya sempet mikir motor saya bermasalah kaya misalnya rantainya lepas atau yang lainnya yang bikin motor nggak bisa jalan, tapi ternyata cuma karena giginya masih netral. Seketika itu juga langsung saya injek tuas gigi kedepan, masukin gigi satu dan langsung gas.

Setelah agak jauh dari traffic light perempatan Gramedia saya pelanin kecepatan motor saya dan melihat ke arah kaca spion sebelah kiri dan saya mendapati wajah Diandra senyum-senyum menahan tawa lalu menutupi bibirnya dengan tangan untuk menahan lepasnya suara tawa dari mulutnya. Dari situ saya mulai curiga, dalam hati saya "Kenapa dia malah ketawa? padahal saya barusan panik gegara diklaksonin banyak orang." 

"Ehh tadi di lampu merah kamu yang mindahin gigi motor jadi netral ya?" Tanya saya.
"Dihh! Nih aku tanya, yang bawa motornya siapa?" Tanya balik Diandra.
"Yang bawa aku."
"Nah tuh, orang yang bawa motor kamu kenapa nanya ke aku?!" Jawab Diandra dengan suara yang lantang, cepat dan sedikit sewot.

Di sepanjang jalan saya diam sambil mikir, "Ini kayanya saya yang dikerjain kenapa malah dia yang sewot? Aturan kan saya yang nggak terima."

Akhirnya sampai di depan kost, Diandra turun dan saya menanyakan lagi buat memastikan atau lebih tepatnya saya pengen dia ngaku tapi jawabanya sama malah saya diusir suruh buruan pulang. Dan seinget saya ini bukan yang pertama kalinya. Dulu juga pernah waktu saya  ngantri beli bensin di SPBU, saya udah netralin gigi dan matiin mesin motor tapi Diandra masih duduk dengan sweetnya di belakang saya. Karena mesin motor udah saya matiin, mau nggak mau saya harus dorong motor kan. Dan pas saya dorong motornya kaki Diandra langsung nginjek tuas gigi ke belakang, otomatis gearbox motor langsung masuk ke gigi empat dan motor stuck berhenti nggak bisa maju.

Itu salah satu hal iseng yang sering dia lakuin kalo saya ajak pergi naik motor. Dan setelah kejadian itu saya lebih sering minjem motor kakak saya yang matic. Udah deh sampai sini dulu ceritanya, besok-besok saya sambung lagi.


CERITA SEBELUMNYA : Story About Diandra 01




Tulisan ini adalah salah satu usaha buat terapi dan latihan nulis lagi by the way.. 




Monday, 5 November 2018

Tim CPNS VS Tim Pengusaha, Kamu Tim yang mana?

Belum lama ini lagi hectic banget tentang pendaftaran CPNS. Bisa dibilang pembukaan lowongan CPNS ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu, kenapa? Yang pertama pasti ini sangat ditunggu pengangguran yang ingin mendapatkan pekerjaan yang menjadi dambaan banyak orang. Perlu diketahui angka pengangguran di Indonesia per 2018 kalo nggak salah sampai 6.87 juta dan pastinya mereka butuh kerja dong. Masa iya nggak kerja, hidup kan butuh makan nggak kaya pohon yang kena sinar matahari kemudian berfotosintesis lalu menghasilkan cadangan makanan sendiri. Dan selain itu juga ada sedikit beban sosial karena ketika kamu nganggur lalu ditanya "kamu kerja apa?" atau ketika kamu diajak nongkrong atau mau beli sesuatu tapi nggak punya duit pasti bakal bikin susah kan.



Bukan cuma yang pengangguran, tapi yang sudah punya pekerjaan dan ingin mendapat kehidupan yang lebih layak juga turut serta ikut dalam penerimaan CPNS 2018 ini. Kenapa bisa sampai membuat banyak orang ingin sekali mendaftar CPNS? Karena banyak yang bilang kalo PNS menantu idaman, kesejahteraan hidupnya terjamin, kerjanya office hour jadi weekend bisa liburan nggak kaya kerja shifting dan masih banyak lagi alasan orang yang menjadi motivasi mendaftar CPNS.

Terus kalo menurut info dari liputan6.com ada sekitar 284.740 pelamar dan untuk yang sudah diverifikasi instansi ada sebanyak 58.626 pelamar. Cukup banyak kan? Jadi ya wajar aja kalo sampai sekarang kamu masih jomblo soalnya lebih banyak yang milih nglamar jadi CPNS daripada nglamar kamu.



Nah, saya nulis ini bukan karena saya pro atau kontra dengan adanya penerimaan CPNS ini. Meskipun saya termasuk yang nggak ikut daftar ya, tapi sekali lagi saya tegaskan kalo saya nggak daftar bukan berarti saya kontra atau anti CPNS. Saya mulai aja ceritanya, jadi belum lama ini juga saya sempet ngumpul, nongkrong, minum kopi sambil ngobrol-ngobrol dengan tujuan untuk mempererat silaturahmi sama beberapa teman saya yang kebetulan mereka punya usaha sendiri dan beberapa yang lainnya ada yang bekerja sebagai karyawan swasta. Nah, dalam obrolan itu sempat dibahas tentang fenomena penerimaan CPNS ini dan secara otomatis buat teman-teman saya yang punya usaha dan sudah merasakan gimana nikmatnya mendulang uang tanpa bekerja dibawah aturan orang lain pasti langsung bilang, gini.

"Saya nggak minat, ngapain? Mau aja kerja sama negara, jadi PNS itu hidupnya monoton lu nggak bisa nikmatin hidup dan selamanya bakal terkurung dalam lingkaran kehidupan yang siklusnya dimulai dari  lahir, sekolah, kuliah, jadi PNS, punya anak, punya cucu, pensiun bla..bla..bla.."

Nah, ini kalo yang denger adalah orang yang masuk dalam golongan "ikut daftar CPNS" kemungkinan besar pride dalam hatinya sedikit tergores, ya tersinggung gitu lah ya atau merasa tidak terima. Dan intinya kalo buat para pengusaha, mendaftar sebagai PNS itu nggak sesuai dengan pedoman hidup mereka, apalagi buat mereka yang bisa merasakan kebebasan finansial. Tapi siapa sih di dunia ini yang nggak ingin merasakan kebebasan finansial, saya rasa hampir semua orang deh.

Tapi apakah semua orang harus jadi pengusaha, penggiat produk kreatif, berjualan atau usaha yang lainnya? Kalo gitu semua terus yang mau jadi guru siapa? Jadi kita tetap nggak bisa bikin semua orang harus jadi penggusaha atau jadi pegawai, fellas. Hidup itu adalah tentang balance, tentang keseimbangan agar semua aktivitas dalam kehidupan kita sehari-hari ini bisa saling melengkapi. 

Jadi please banget ya fellas, tidak perlu untuk memaksa seseorang untuk menjadi penggusaha atau memaksa menjadi PNS, Terus kalo kita tanya "kenapa kok gak daftar?" atau "kenapa kok gak bikin usaha aja?" kita juga harus memaklumi dan memahami alasan mereka memilih jalan hidupnya sendiri-sendiri jangan sampai ketika mereka menjawab lalu jawaban itu malah bikin kita yang bertanya jadi tersinggung sendiri, malah jadi kaya boomerang kan.

Ya pokoknya intinya gitu lah fellas, sebenernya saya masih pengen nulis panjang tapi takut kalian malah bosen bacanya. Udah dulu ya, kapan-kapan disambung lagi, bye fellas..



Tuesday, 30 October 2018

Story About Diandra 01

Temen-temen gue bilang katanya gue orang yang nggak bisa move on dari masa lalu, mereka bilang gitu soalnya gue sering cerita tentang orang-orang yang pernah deket sama gue dulu. Sebenernya bukan karena gue nggak bisa move on atau belum move on, justru karena gue udah move on jadi gue bisa cerita. Mungkin terdengar naive tapi gue berusaha untuk bersahabat dengan masa lalu. Atau banyak juga teman gue yang bilang kalo gue belum move on soalnya gue sering update kata-kata melow di sosial media. Gak gitu woy! Nah, buat beberapa dari kalian mungkin belum tau cerita tentang masa lalu gue kan? Mending gue cerita aja dulu.

Jadi ceritanya gini,


Namanya Dianda Nafira, suatu hari gue ngajak Diandra makan di suatu cafe di dekat Kridosono daerah Kotabaru Yogyakarta. Kami datang lalu memesan makanan dan tidak begitu lama makanan yang kami pesan pun diantarkan waiter ke meja kami, tetapi masih ada pesanan yang belum lengkap yaitu minuman dan dessertsnya. Waktu itu gue pikir waiternya cuma telat aja nganternya, tapi ternyata telatnya lama. Diandra sudah habis hampir setengah porsi makanan yang dia pesan lalu dia tersedak dan minuman yang kami pesan masih juga belum datang. Gue masih sibuk makan dan misahin daun seledri yang ada di makan gue, sekilas gue lihat raut mukanya mulai cemberut. Terus tiba-tiba dia berdiri lalu berjalan menuju ke arah kasir, dalam hati gue.


"Wahh.. Gawat nih, mau ngamuk nih kayanya gara-gara minumannya belum dateng. Duhh.. Harusnya tadi gue tahan dulu biar gue yang bilangin ke kasir atau waiternya."


Tapi dugaan gue salah dan apa yang gue lihat waktu itu seketika wajah Diandra berubah kembali segar normal seperti biasanya. Dan yang lebih diluar dugaan lagi dia justru tersenyum lalu berkata.


"Maaf mbak, mau minta tolong untuk pesanan di meja sembilan masih ada yang kurang minuman sama dissertnya belum."


"Ohh iya, saya cek dulu. Yang meja sembilan ya."


Jawab kasirnya sambil mencari nota pesanan yang sepertinya terselip atau berada diurutan yang salah dan membuat pesanan kami menjadi kurang lengkap. Dan setelah dicek memang benar ada kekeliruan, setelah selesai mengecek pesanan Diandra kembali duduk, dia tersenyum kepada mbak penjaga kasir sambil mengucapkan.

"Terimakasih." 


Dari kejadian itu gue baru sadar bahwa Diandra adalah perempuan yang bisa bersikap dengan baik disaat ada hal-hal yang sebenarnya membuatnya merasa jengkel. Dan dia adalah orang yang tidak pernah lupa mengucapkan kata maaf, tolong dan terimakasih kepada orang lain dalam keadaan apapun, meskipun bukan dia yang salah.
Mungkin hal itu terlihat sederhana atau biasa saja tapi buat gue Diandra luar biasa karena dalam kasus yang sama gue pernah juga ngajak cewek makan pizza disuatu tempat makan yang menunya spesialis pizza tapi waktu itu cewek yang gue ajak justru komplain karena rasa keju yang ada di pizzanya berbeda dari yang sebelumnya dia pernah beli ditempat yang sama. Dan saat itu gue ngrasa malu abis itu gue kapok nggak mau ngajak jalan cewek yang rewel cuma gara-gara keju.


Hal lain dari Diandra yang gue kagumi adalah dia bisa membuat orang lain bisa merasa bersalah tanpa dia harus marah-marah. Karena setelah dia minta cek nota pesanan di kasir nggak lama waiternya datang membawa pesanan kami dan meminta maaf dan memberikan tambahan float eskrim kepada kami sebagai tanda permintaan maaf karena kami nggak pesan eskrim sebenarnya. Kejadian ini bikin gue jadi belajar dari Diandra kalau untuk membuat orang lain menyadari kesalahannya tidak harus kita beritahu dengan sikap emosi atau kita marahi. Mungkin gue nggak bisa menemukan lagi perempuan yang sama persis seperti Diandra dan gue juga nggak akan membandingkan orang yang nantinya ada di masa depan gue dengan Diandra, tapi setidaknya gue sudah belajar dari masa lalu tentang bagaimana cara untuk bersikap lebih baik.
 

Nah, dari cerita inilah salah satu penyebab temen gue bilang kalo gue belum move on. Tapi sebenernya gue merasa beruntung pernah deket sama cewek seperti Diandra. Karena gue jadi bisa belajar bagaimana biar bisa bersikap lebih baik, buat anak introvert yang anti sosial seperti gue itu amazing!

Segini dulu, besok gue sambung lagi.

Thursday, 18 October 2018

Jangan Pacaran Sama Temen! Ciri-Ciri Temen yang Nggak Boleh Dipacarin

Jangan pacaran sama temen sendiri! Pernah nggak denger kata-kata seperti itu? Pasti pernah kan dan pasti ada sekte pertemanan yang menganut paham kalo macarin temen sendiri itu pamali. Terus boleh nggak sih sebenenrnya pacaran sama temen sendiri? Kalo nggak, temen yang kaya gimana sih yang nggak boleh dipacarin? Hmm.. Masing-masing orang pasti punya pendapat yang berbeda-beda soal ini, ada yang setuju pacaran sama temen sendiri yang sudah kenal sebelumnya ada juga yang nggak setuju pacaran sama temen sendiri. Yang akan dibahas ditulisan ini adalah tentang pacaran sama temen, temen main satu geng, temen kerja, temen kuliah, temen sekolah, pokonya yang dari temen biasa sampai jadi temen hidup yang luar biasa.




“Terus menurut yang nulis sendiri setuju atau nggak kalo pacaran sama temen sendiri?”

Hmm.. Kalo pertanyaan ini gue jawab nanti diakhir aja ya. Nah sekarang gue mau kasih tips tentang ciri-ciri temen yang nggak boleh dipacarin. Okey, yang pertama.
 
  1. Jangan pacaran sama temen yang sejenis. Ini nggak boleh gaes, selain dilarang agama ini juga menyimpang dari norma dan kodrat hidup. Serem kan hubungan sejenis berasa kiamat makin deket aja, ya emang nggak mungin makin jauh juga sih. Terus yang kedua. 
  2. Jangan pacaran sama temen yang udah punya pacar. Jenis temen yang udah punya pacar nggak boleh dipacarin ya gaes, kan ksian itu pacaranya orang. Selanjutnya. 
  3. Jangan pacaran sama temen yang udah punya istri/suami. Ini nggak boleh banget ya gaes, yang udah punya pacar aja nggak boleh apa lagi yang udah punya keluarga sendiri bisa panjang urusannya. Cari yang masih single aja ya.

Nah, kira-kira gitu gaes ciri-ciri temen yang nggak boleh dipacarin. Gimana tips dari gue? Cukup solutif kan? hehee..

Okey, Sekarang gue mau flashback dulu, gue mau cerita tentang masa lalu gue sendiri tentang apa yang gue alami, tentang dilema berpacaran dengan teman sendiri. Jadi pada waktu itu, gue nggak tau pasti itu tahun berapa dan tanggal berapa yang pasti waktu itu gue jatuh cinta sama temen gue sendiri (temen apa nih? temen kuliah? temen sekolah? temen kerja) arrgh.. pokoknya temen sendiri lah. Ya namanya cinta kadang nggak terduga kapan jatuhnya dan jatuhnya ke siapa ya kan? 

Walaupun awalnya cewek yang gue taksir itu sama sekali bukan tipe yang gue idam-idamkan tetapi kenyataannya takdir berkehendak lain. Entah apa penyebabnya gue kurang tau pasti yang gue inget waktu itu gue sering ketemu dan makan bareng sama cewek yang gue taksir itu. Dari sering ketemu dan sering ngobrol itu lama-lama muncul perasaan nyaman dari ngobrol itu, karena pada dasarnya setiap orang saling membutuhkan telinga disaat mereka ingin bercerita tentang apa pun.  Dan dari situ gue jadi percaya kalo cinta itu tumbuh gaes, tumbuhnya cinta itu bisa terjadi karena dua individu yang terlibat saling menyesuaikan tapi kalo dua-duanya saling memenangkan egonya sendiri-sendiri mungkin cinta itu nggak akan tumbuh dengan baik. (Tsahh.. ngomong apa sih)

Tapi kisah cinta gue nggak semulus paha banci Thailand yang operasi plastik, di tengah perjalanan ada rintangan yang menghambat dan yang jadi penghambat itu adalah temen sendiri. Disaat gue semakin dekat sama cewek yang gue taksir itu sebut saja namanya Diandra(bukan nama sebenarnya) tanpa diduga, tanpa dinyana ada temen yang ngasih saran ke dia buat nggak pacaran sama gue. Jadi yang namanya cewek itu kalo dideketin cowok pasti ada beberapa dari mereka yang galau terus curhat sama temen cewek yang lain dan temennya yang lain itu sok-sokan ngasih saran atau nasihat bijak seolah-olah mereka benar-benar tau dan mereka sendiri yang alami. 

Dan secara nggak langsung saran yang sok bijak itu merugkan buat gue sekaligus menyakitkan karena temen-temen Diandra yang lain menyarankan dia buat nggak pacaran sama gue dengan alasan karena gue adalah temennya, temen deketnya. So what? Jadi kalo gue temennya terus gue nggak boleh punya pacar temen sendiri? Okey mungkin beberapa dari kalian yang baca juga ada yang berpendapat sama yaitu untuk tidak berpacaran dengan temen sendiri. 

Gue sendiri juga sempat berpikir seperti itu untuk tidak berpacaran dengan temen sendiri, alesannya karena kalo misal pacaran sama temen sendiri terus tiba-tiba ada masalah selama pacaran dan kemudian putus selain kalian kehilangan pacar kalian juga bakal kehilangan temen dan suasananya biasanya nggak akan sama lagi, jadi awkward. Tapi mana ada sih orang yang pacaran dan berharap putus, jadi kalo buat gue kenapa harus takut akan hal-hal yang belum terjadi dan sebenarnya juga kita tidak menginginkan hal itu terjadi kan. Dan kalo pun memang harus terjadi kan bisa coba buat ngomong baik-baik dan diselesaikan dengan cara yang baik kalo memang ada masalah.

Sama halnya seperti kata Raditya Dika di twitternya yang udah cukup lama sih itu di tahun 2014. Kalo kalian merupakan salah satu follower alaynya pasti kalian juga pernah liat twitnya.



Nah, bisa dilihat kan yang retweet sampai 11ribu lebih yang like sampai 1500an.

Dan akhirnya gue nggak jadi pacaran sama Diandra, padahal komunikasi antara kami berdua baik-baik saja dan tidak ada masalah yang cukup berarti. Jadi sebenernya nggak ada hubungannya kalo kalian pacaran sama temen atau sama temennya temen atau sama orang lain. Karena yang terpenting itu bukan masalah itu temen sendiri atau bukan tetapi bisa atau tidaknya menjalin komunikasi yang baik saaat memulai suatu hubungan, kenyataannya yang terjadi gue sama Diandra masih tetap jadi temen baik sampai saat ini  nggak ada saling benci, memusuhi, dendam atau pun awkward meskipun kami dulunya sempat dekat dan tentunya mengalami bermacam-macam masalah selama kedekatan kami terjalin.

“Lohh terus kok bisa tau kalo Diandra dikasi saran dari temennya?”

Kalo itu Diandra sendiri yang ngasih tau ke gue waktu itu.

*percakapan via telepon

Gue : Ndra, inget nggak waktu dulu kita deket, kenapa kita nggak pacaran aja?

Diandra : Hahaa.. Ohh yang waktu itu, dulu ada yang kasih aku saran buat nggak pacaran sama kamu Wan. Hehee..

Gue : Lohh.. Siapa? Kok bisa gitu? Jahat banget.

Diandra : Hahaa.. Jadi dulu tuh ceritanya gini.. (Stop. nggak perlu dilanjutin percakapannya sampai detail ya nanti jadi panjang, intinya gitu aja.)

Dan sebelum gue nulis ini gue juga sempet survey, nanya ke beberapa temen-temen gue yang lain tentang apakah mereka setuju punya pacar/pasangan dari temen sendiri? Jawaban dari mereka kebanyakan No, Absolutely No. Pertanyaan gue kenapa gitu? Padahal kan temen atau sahabat itu adalah orang yang paling dekat dengan kita dan seharusnya bisa lebih tau, lebih kenal karakter kita dan harusnya bisa jadi partner kita juga. Jadi kalo menurut gue jangan sampai omongan dari temen atau dari orang lain mempengaruhi perasaan. Dan jangan sampai juga karena gengsi atau malu itu temen sendiri terus takut bakal jadi omongan temen-temen yang lain kemudian perasaan yang jadi korbannya. 

Sama halnya kaya di cerita the miller his son and the donkey, tau kan ceritanya? kalo nggak tau googling deh. Karena apa pun itu, apa pun yang terjadi pasti akan menuai komentar dari orang lain. Jadi kalo kalian mungkin saat ini lagi deket sama temen sendiri atau mungkin lagi galau soal itu, coba dipikir dulu baik-baik deh karena nggak selamanya pacaran sama temen sendiri itu salah atau jadi masalah tapi memilih untuk tidak berpacaran dengan temen sendiri juga nggak salah karena mungkin ada suatu hal yang memang nggak bisa dipaksa bersama.

Okey kira-kira segitu aja sharing dari gue dan jawaban buat pertanyaan yang di atas tadi. Dan dibawah ini beberapa contoh pasangan yang sukses berpacaran dengan temen sendiri sampai mereka menikah.

    Ayudia Bing Slamet dan Ditto

    Jon Bon Jovi dan Dorothea Hurley 

    Habibie dan Ainun

Tentang Doa di Sosial Media


Ini cerita tentang temen di sosial media, lebih tepatnya di twitter. Jadi belum lama ini ada salah satu temen yang ngasih undangan nikahannya. Dan pasangan nikahnya itu bukan orang jauh, dia adalah salah satu temen juga yang gue juga kenal orangnya. Awal ceritanya dari percakapan di twitter waktu itu dia ngomong gini.



“Heh @juminten lihat aja besok kalo aku udah lulus kamu pasti ngemis-ngemis minta nikah sama aku”
begitu kicau dari Paijo di akun twitternya.

“@paijo dihh! nggak akan!” begitu balasan twit dari Juminten yang singkat, ketus dan sok jual mahal.

By the way itu cuma username samaran ya soalnya pas gue cari username sama twitnya udah nggak ada di twitter, mungkin karena udah nggak pernah aktif lagi di twitter. So, walaupun jawaban twit dari Juminten itu bilang “nggak” tapi kenyataannya tujuh tahun setelah twit itu di post dan keluar di timeline gue pada akhirnya mereka memutuskan untuk menikah juga. Nah yang jadi point adalah apa yang di ucapin Paijo di twitter tujuh tahun lalu menjadi kenyataan, ya meskipun proses mereka menikahnya nggak dibumbui adegan Juminten yang ngemis-ngemis juga sih, tapi buat gue ini menarik. Karena gue inget kejadian di twitter tujuh tahun lalu itu dan gue penasaran akhirnya gue mencoba mengkonfirmasi kepada sang pemilik akun si Paijo.

“Eh.. Jo serius lu mau nikah besok sama Juminten? Inget dulu nggak waktu lu bercanda bilang di twitter kalo lu udah lulus terus mau nikah sama Juminten?” Tanya gue via Whatsapp

“Hahaa.. Iya inget, sebenernya waktu itu gue nggak bercanda Wan, emang gue serius waktu itu. Emang niat itu ngetwit begitu, kalo guu nggak ngetwit begitu gue nggak bakal dapet attention dari Juminten hahaa.” Jawab Paijo

Dan ternyata emang serius “niat” dia dan nggak bercanda. Tapi karena keadaannya waktu itu cuma nggobrol bercanda biasa jadi nggak ada yang tau kalau si Paijo memang menanamkan niat dalam twitnya. Nah yang pengen gue tekankan adalah gini, twitter atau sosial media yang lainnya apa pun itu bisa di Facebook, Instagram atau Path dan yang lain itu kalau kata orang sosial media memang bukan tempat berdoa tetapi apa yang kalian tulis di sosial media bukan tidak mungkin bisa jadi doa, ya kan? Paijo memang nggak berdoa dalam twitternya tapi jadi kenyataan, karena dia memang ada niat dan karena segala sesuatu itu berasal dari niat kan. Jadi apa pun itu yang ada di sosial media tulislah yang baik-baik, karena biasanya apa yang kita ucapkan atau kita tulis biasanya juga akan kembali pada kita sendiri.

Tapi ini bukan berarti gue nyuruh buat berdoa di sosial media ya soalnya ada pendapat kalau berdoa di sosial media tidak dianjurkan, tetep kalau berdoa harus ditujukan ke Yang Maha Kuasa. Dan lagi soal sosial media gue mulai miris karena sekarang sosial media isinya lebih banyak tentang nyinyir, entah apa itu bahasa nyinyir yang baru-baru ini populer di era masa kini dan yang jelas itu tentang menjelek-jelekan orang lain di sosial media. Okey, that’s it cukup itu dulu lain kali gue sambung lagi.

Sunday, 30 September 2018

Belum Move On? 5 Hal Ini Yang Membuat Sulit Move On

Belum move on? Beberapa orang sedikit kesulitan untuk move on, move on yang berati untuk melupakan masa lalunya. Kenapa kebanyakan orang nggak bisa move on? Apa yang membuat orang nggak bisa move on? Tolak ukur apa yang bisa dijadikan acuan seseorang itu sudah move on atau belum? Mungkin masing-masing orang bakal punya jawaban yang berbeda.



Masa lalu, hal yang identik dengan kenangan di kehidupan sebelumnya dan beberapa orang ingin melupakannya. Kenapa? Mungkin karena kenangan itu adalah kenangan yang kurang menyenangkan. Padahal seharusnya setiap momen yang pernah kita habiskan kalau itu bersama seseorang yang pernah dekat dengan kita bisa menjadi momen yang membahagiakan selama tidak ada hal-hal yang menimbulkan trauma tentunya.

"Karena yang seharusnya dikenang adalah hal-hal yang dulunya pernah menimbulkan perasaan senang, bukan hal-hal yang membuat sudut kelopak mata berkumpul air mata yang menggenang"

Nah masa lalu yang bisa dikenang itu bermacam-macam, misalnya masa lalu tentang keluarga waktu masih kecil, masa lalu sama temen main waktu masih kecil atau masa lalu bersama kekasih hati yang dulu "pernah dekat". Ini nih yang terakhir yang biasanya bikin orang nggak mau inget masa lalunya atau enggan buat mengenang tentang itu.

Apa yang menyebabkan orang enggan untuk mengenang masa lalunya? Dan cenderung ingin melupakan masa lalu tersebut. Sebagian besar jawabannya adalah karena kisah itu sudah berakhir dan tidak ingin diungkit lagi, bener sih. Tapi kadang ada hal yang susah buat kita lupakan meskipun kita tidak berusaha untuk mengingat atau mengenangnya, misalnya yang di bawah ini



1.Sulit Melupakan Kebiasaan

Memang susah menghapus atau melupakan perasaan tapi lebih susah lagi melupakan kebiasaan. Karena hal-hal yang sering dilakukan bersama yang akhirnya menjadi rutinitas biasanya akan menjadi kebiasaan yang sulit dirubah. Dulu waktu gue masih deket-deketnya sama cewek yang gue taksir, kami sering melakukan komunikasi lewat telpon karena gue lebih suka ngomong dari pada ngetik via chat. Sampai akhirnya suatu hari waktu gue masih kerja(belum jadi pengangguran) setelah pulang dari kantor gue mampir ke konter HP dan membeli pulsa tanpa gue sadar. Sesampainya di kost gue baru sadar buat apa gue beli pulsa kalau orang yang biasanya gue telpon sekarang udah bukan siapa-siapa gue, nggak lebih dari temen biasa yang sebelumnya pernah dekat. Akhirnya pulsa yang terlanjur gue beli gue jual lagi. -_-

 
2. Kehilangan Bayangan Tentang Masa Depan

Sebagian orang berpikir terlalu jauh ketika mereka menjalin sebuah hubungan, termasuk gue. Selama menjalin hubungan dekat dengan seseorang terkadang gue memikirkan tentang rencana atau lebih tepatnya berkhayal tentang masa depan dan membicarakan tentang masa depan bersama pasangan dan itu biasanya akan menjadi hal yang paling membekas nantinya. Gue punya hobi desain grafis, gue suka gambar walaupun gue sebenernya nggak pernah bisa gambar secara manual. Suatu hari gue bikin desain tentang interior rumah. Awalnya gue cuma membayangkan tentang desainnya kemudian gue bikin desain dinding rumah yang dihias mural dan typografi bertuliskan nama dari orang yang spesial, kemudian gue save di suatu folder yang gue kunci. Sampai suatu hari ketika datang waktu perpisahan dan hubungan yang gue jalin berubah jadi udahan, gue nggak sengaja nemuin lagi folder yang pernah gue kunci itu. Pas gue buka lagi hati gue berasa kram, akhirnya gue hapus folder berisi tentang desain untuk masa depan itu. Gue tekan deletenya sambil tutup mata karena nggak tega waktu mau hapus. Pas gue buka mata gue nangis sambil teriak karena gue baru sadar tangan kiri gue bekas pegang cabe dan kena sambel pas gue pake buat nutupin mata.
 

3. Teringat Tempat Yang Berkesan

Setiap orang pasti memiliki tempat yang berkesan, tempat yang menyimpan kenangan yang bisa mengingatkan akan sesuatu atau seseorang. Biasanya seseorang akan mengajak ke suatu tempat yang indah, tempat yang menarik, tempat yang menyenangkan bersama orang yang spesial untuk menghabiskan waktu bersama. Dan momen menghabiskan waktu bersama orang lain adalah hal yang tidak bisa digantikan, karena satu hal yang semua orang punya tetapi tidak semua orang bisa memberikan adalah waktu dan ketika waktu itu sudah diberikan maka tidak bisa dikembalikan lagi atau diganti. Ketika kita datangi kembali tempat yang sama di waktu yang berbeda dengan keadaan yang berbeda juga rasanya akan menjadi berbeda, meskipun kenangan yang teringat tetap tentang orang yang sama.
 

4. Hidup Menjadi Tidak Beraturan

Ada orang bilang kalau cewek patah hati dia bakal nangis, sedih murung berhari-hari tapi kalo cowok patah hati biasanya dia bakal jadi nakal, liar dan hidupnya nggak teratur. Entah benar atau nggak ungkapan itu, coba tanya orang lain yang patah hati. Tapi itu yang gue alami, beberapa hari gue bangun tidur kesiangan terus dan susah bangun pagi. Sebelumnya hidup gue teratur, gue selalu bangun pagi dan ngajak Diandra(masa lalu gue) sarapan, gue juga selalu ngerjain hal-hal yang seharusnya gue kerjain dengan tepat waktu karena ada orang yang selalu jadi alasan buat gue berusaha menjadi lebih baik dan nggak bermalas-malasan. Dan sekarang gue harus menemukan alasan itu dalam diri gue sendiri, demi diri gue sendiri.
 

5. Cenderung Membandingkan Dengan Orang Lain

Setiap orang punya cara berkomunikasi yang berbeda-beda. Ada yang mungkin terbiasa dengan obrolan yang singkat, ada yang suka obrolan serius, ada juga mungkin yang ngobrol seperlunya aja tanpa basa-basi. Kadang gue suka membandingkan cara berkomunikasi orang lain yang gue kenal dengan masa lalu gue. Dan memang berbeda, memang akan lebih nyaman ketika kita bercerita atau ngobrol dengan orang yang sudah terbiasa dengan cara kita berbicara atau berkomunikasi. Karena penyampaian atau delivery setiap orang ketika berbicara akan terdengar berbeda. Untuk bisa move on kita nggak bisa menuntut orang lain atau orang baru bersikap sama seperti masa lalu kita dan itu akan menyakitkan, karena setiap orang tidak suka dibanding-bandingkan.

Ada kalimat perpisahan sebelum gue mengakhiri masa lalu gue dulu, kalimatnya gini. “Akan selalu ada yang lebih baik(cantik/tampan) dari aku, tapi tak akan ada yang sama. Karena tak ada yang bisa mencintaimu dengan cara ku.” Jadi jangan sampai karena kita masih membandingkan dan mengharapkan orang yang sama seperti orang yang ada di masa lalu kemudian kita tidak bisa move on. Karena move on itu bukan tentang melupakan tetapi mengikhlaskan yang dulu pernah ada dan membiasakan dengan keadaan baru yang sekarang dijalani. Kira-kira itu sih yang gue rasain, mungkin berbeda dengan orang lain. Itu dulu dari gue, terimakasih kalau udah baca..bye..