Showing posts with label DIANDRA. Show all posts
Showing posts with label DIANDRA. Show all posts

Sunday, 14 April 2019

Story About Diandra 04

Cerita ini terjadi disaat saya sedang menghadapi masalah, atau lebih tepatnya 'kami' sedang dihadapkan pada masalah. Setiap orang yang menjalin relationship pasti pernah dihadapkan pada masalah, entah itu masalah besar atu kecil. Katanya sih begitu, tapi ya nggak tau kalau misalnya ada yang relationshipnya lempeng-lempeng aja dan lancar kayak jalan toll. Saya sendiri yang sudah lupa tentang masalah yang dulu kami hadapi saat itu lebih memilih untuk menenangkan diri terlebih dahulu dengan cara hang-out dengan teman-teman saya.
Dulu saya pernah membuat kesepakatan dengan Diandra jika kami sedang ada masalah maka, kami akan menghentikan komunikasi untuk beberapa hari agar bisa saling menenangkan diri. Dengan begitu, harapannya setelah pikiran tenang lalu kami bisa menyelesaikan masalah dan mendapatkan solusi yang terbaik. Di hari itu saya memutuskan untuk hang-out dengan teman saya pada malam harinya. Teman saya mengajak saya untuk berkumpul di angkringan Tugu Yogyakarta.

Karena saya tidak ada kegiatan, saya datang sesuai dengan jam yang sudah disepakati dengan teman-teman. Dan setelah sampai di TKP saya langsung pesan kopi susu lalu duduk lesehan bersama beberapa teman yang sudah datang. Saat sudah duduk saya mengeluarkan HP dari saku celana untuk mencoba menghubungi teman-teman yang lainnya. Waktu saya buka notifikasi di HP, ada pesan LINE dari teman yang bilang kalo dia sedang OTW. Setelah saya balas pesan chatnya, saya tidak sengaja swipe dari history chat LINE ke status atau Timeline dan saya melihat Diandra update status Timeline dengan stiker yang menggambarkan dia sedang sedih. Dan saat itu juga tiba-tiba saya merasa gagal sebagai orang terdekatnya.

Lalu ada hal membuat saya merasa sesak di dada waktu itu adalah komentar yang ada di statusnya, beberapa ada komen dari cowok dan beberapa lagi ada komen dari teman-teman ceweknya. Kalau komentar dari cowok sudah bisa langsung ditebak kalau ini cowok mau cari kesempatan terus sok ngasih perhatian lewat komen. Nah, kalau dari teman cewek ini yang lebih membuat saya khawatir, kenapa? Karena kalimat-kalimat yang keluar dari mulut cewek atau dari ketikan jempol cewek itu akan lebih sugestif dan provokatif.

Nggak tau ini mitos atau fakta, atau hanya spekulasi saya saja. Tapi menurut saya memang kalimat-kalimat yang keluar dari cewek ke sesamanya cenderung bersifat sugestif dimana kalian(sebagai cewek) mau nggak mau pasti akan mengikuti atau larut pada suara yang terbanyak.


Menurut saya ada semacam peraturan dimana ketika kalian(sebagai cewek) tidak mengikuti perkataan dari teman kalian sendiri yang sesama cewek maka kalian akan dianggap tidak setiakawan atau akan dianggap bodoh dalam lingkungan sosial pertemanan atau yang lainnya. Tapi mungkin itu hanya ketakutan saya yang terlalu berlebihan atau gimana saya sendiri juga kurang paham, mungkin juga tidak semua seperti itu.

Dan pada saat itu juga saya langsung telpon Diandra.

"Halo, lagi di kost nggak?"

"Iya, aku lagi di kost."

"Temenin aku makan bentar yuk, kamu pasti belum makan kan?"

"Iya, belum."

"Yaudah, aku jemput sekarang ya?"

"...." Tiba-tiba Diandra diam tak bersuara dan saya hanya bisa mendengar suara kipas angin yang ada di dalam kamar Diandra.

"Hey, haloo.. Aku jemput kamu ya?"

"Iyaaa.. Kan barusan aku udah ngangguk."

Mendengar jawaban itu, saya langsung mute HP saya dan berkata "Hey anda! Ini telpon biasa bukan video call, saya mana tau kalau anda mengangguk!! Woy!!" Ucap saya agak kesal tapi masih berusaha sabar karena saya masih berniat untuk memperbaiki komunikasi says dengan Diandra. Lalu saya unmute lagi HPnya.

"Yaudah aku jemput sekarang, nanti kalo udah deket kost aku kabarin lagi."

"Iyaa."

Setelah itu saya langsung bayar kopi susu yang sudah saya pesan tapi belum sempat saya minum dan ijin pamit dari teman-teman saya.

"Ehh.. Ini kopinya belum gue minum, ntar minum aja. Sorry bro kayanya gue skip dulu hari ini."

"Lahh.. Mau kemana Wan?"

"Duhh.. Ada urusan bentar, mau jemput nyonyah. Gue duluan ya."

"Okey deh, besok ketemu lagi ya."

"Siyapp." Jawab saya dan langsung bergegas jemput Diandra.

Di tengah perjalanan mendekati kost Diandra saya kirim pesan WA

"Aku udah di lampu merah deket kost kamu, bentar lagi nyampe."

Setelah sampai di depan pintu gerbang, ternyata Diandra sudah berdiri menunggu disana.

"Kamu udah lama nunggunya?" Tanya basa-basi.

"Belum." Jawab Diandra singkat. Mungkin dia masih merasa ada sisa-sisa dari pertengkaran kami sebelumnya dan saya pun masih merasa bersalah, terlepas dari permasalahan apa yang kami hadapi waktu itu yang saya sendiri sudah lupa. Tapi saya merasa kalau saya memiliki tanggungjawab untuk menyelesaikannya dan untuk tidak membiarkannya berlarut-larut.

Saya mengajak Diandra makan di tempat makan yang tidak terlalu ramai dan memilih meja yang agak terpisah dengan pengunjung lain. Sebelum saya memulai obrolan, saya dan Diandra pesan makanan sambil ngobrol basa-basi karena suasananya masih sedikit kaku. Setelah selesai makan sampai hanya tinggal dessert, saya mencoba membuka obrolan yang sedikit serius dan mencoba menjelaskan apa yang saya rasakan.

"Di, aku minta maaf. Terlepas dari masalah apa pun yang sedang kita alami dari kemarin. Aku merasa aku salah kalau harus membiarkan kamu sendiri dengan masalah yang sedang kita hadapi. Aku mau tarik lagi peraturan kita soal me-time selama tiga hari. Mulai sekarang kalau ada masalah apa pun itu, aku maunya kita tetap ngobrol dan aku nggak apa-apa kalau pun kamu mau emosi atau marah-marah."

"Kamu yakin? Nanti kalau kita malah jadi saling lempar kesalahan gimana?"

"Okey, gini deh biar nggak pake acara marah-marah atau saling lempar kesalahan gini aja." Jawab saya sambil membuka tas lalu mengeluarkan buku note lalu menyobek dua lembar kertas.

"Ini buat apa?" Tanya Diandra.

"Aku bakal tulis semua hal yang menurutku salah dan kesalahan itu dari aku sendiri, terus aku juga bakal nulis apa aja hal yang menurutku kurang tepat dari kamu. Dan kamu juga sama nulis itu buat aku, abis kita nulis itu semua terus kita tuker kertasnya dan dibaca pas kita udah pulang nanti."

"Terus abis itu gimana? Udah masalahnya kelar?"

"Tentu tidak selesai semudah itu nona cantik. Aku sadar kalau masing-masing dari kita punya ego dan masih nggak bisa terima gitu aja kalau aku bilang kamu yang salah atau sebaliknya, tapi paling nggak dengan kita nulis ini harapanku bisa sedikit melegakan atau sekedar meringankan. Kalau pun nanti dari tulisan ini ada yang masih salah dari aku atau kamu dan perlu direvisi lagi juga nggak apa-apa." Kata saya, berusaha menenangkan.

"Yaudah, aku tulis nih. Tapi kamu jangan marah ya kalau aku nulisnya jujur soal apa aja yang menurut aku salah di kamu?"

"Iya aku nggak marah, kan aku juga yang bikin ide ini."

Kemudian kami mulai menulis semua hal yang mengganjal menurut kami, lalu kami saling menukar kertas itu. Tapi saat saya menerima kertas dari Diandra tentang koreksi untuk saya ternyata cukup banyak, satu lembar full bolak-balik.

"Kok ini yang koreksi buat aku banyak banget ya?" Tanya saya.
"Kenapa? Nggak terima? Nggak usah protes deh, tadi katanya nggak apa-apa kalau aku nulisnya jujur."

"Okey baik lah, tapi ini kenapa ada pernyataan kalau 'Wawan harus selalu kalah kalau suit, main poker, uno dan lainnya' kok bisa gitu?"

"Ya emang harus gitu, pokoknya aku nggak mau kalau kamu menang. Kalau taruhan juga pokoknya aku yang harus menang!" Jawab Diandra ngotot, tapi kali ini suasana hatinya sudah mulai cair. Terdengar dari nada yang Diandra keluarkan sudah mulai berbeda dari sebelumnya. Semakin mengenal dia semakin saya tahu warna suaranya waktu dia sedih, marah, nggak mood dan waktu dia seneng.

"Hahaa... iya-iya deh boleh, pokoknya kamu yang akan selalu menang."

"Wan, aku kangen kamu." Ucap Diandra secara tiba-tiba dan itu membuat saya bingung harus bereaksi seperti apa.

"Besok kita main ke pantai yuk." Akhirnya saya putuskan untuk mengajaknya main ke pantai.
"Ehh.. sorry, lupa aku besok kan masih masuk kerja deh."

"Ihh.. Nggak mau, pokoknya kamu harus bolos nggak usah kerja."

"Lahh, nanti aku kena SP gimana dong. Trus gaji ku dipotong, sore aja abis aku pulang kerja langsung aku jemput ya."

"Kalau sore nanti mainnya cuma bentar, aku maunya dari pagi." Ucap Diandra tetap memaksa dan keluar sifat manjanya yang ingin segalanya dituruti tanpa peduli apa pun.

"Yaudah..yaudah.. Sekarang ikut aku aja yuk."

"Mau kemana?"

"Udah ikut aja, aku bayarin makanannya dulu ya."

Setelah itu gua aja Diandra naik motor dan menyusuri jalanan Kota Jogja.

"Kita mau kemana sih?"

"Nggak kemana-mana, muter-muter aja. Hahaa."

"Hiih kirain mau main kemana? Kalau cuma mau muter- muter gini terus mau ngapain?

"Ya nggak ngapa-ngapain, cuma kangen pengen ngobrol aja sama kamu."

"Lahh.. Kalau cuma mau ngobrol kan bisa sambil duduk di cafe tadi, kalau di jalan gini kan malah dingin."

"Yaudah aku berhenti di depan situ ya."

Saya menghentikan motor di tepi jalan yang kebetulan di dekat situ ada penjual wedang ronde dan saya langsung pesan dua porsi. Kami duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu.

"Nih, biar nggak dingin." Kata saya sambil menyuguhkan wedang ronde ke Diandra.

"Hihh.. Kalau nanti aku minum ini jadi kembung."

"Yaudah sini kalau nggak mau."

"Mauu.."

"Katanya tadi nggak mau."

"Aku tadi cuma bilang jadi kembung bukan nggak mau."

"Iya-iya deh, hihh capek ngomong sama kamu tuh."

"Yaudah diem aja kalau capek."

Seperti mematuhi komando dari jendral perang, saya langsung diam sambil menikmati wedang ronde. Duduk di kursi kayu di tepi jalan sambil menikmati wedang ronde, bercanda dan berbincang-bincang tentang banyak hal.

Dari kejadian waktu itu, ada hal yang saya sadari bahwa ketika kita sedang ada masalah akan lebih baik jika langsung kita hadapi dan kita selesaikan. Bukannya justru saling diam dan membiarkan masalah itu berlarut-larut. Mungkin memang tidak semua orang bisa berkomunikasi dengan cara yang sama seperti yang kami lakukan.

Tapi buat saya sendiri lebih nyaman jika ada masalah dan langsung dihadapi. Hal yang paling saya sayangkan pada waktu itu adalah ketika Diandra melampiaskan kesedihan dan masalahnya di status aplikasi messenger. Dan saya sebagai orang terdekatnya merasa gagal untuk membantu dia memberikan solusi saat menghadapi masalah. Lalu dalam hati saya tiba-tiba terucap "lalu apa artinya kami menjalin relationship jika ada masalah tapi tidak dihadapi bersama". Jadi sejak saat itu saya berusaha agar ketika Diandra atau kami sedang ada masalah maka, saat itu juga akan kami bicarakan bersama. Seandainya saat itu tidak mendapat solusinya, setidaknya dengan berbicara dan saling bercerita bisa meringankan masalahnya.

















Wednesday, 20 February 2019

Story About Diandra 03 (Tentang Arti Bersyukur)

Pagi hari pukul setengah tujuh. Waktu itu saya lagi sarapan bubur ayam, saya makan berdua bareng sama Diandra di tempat langganan makan bubur tepatnya di bubur ayam syarifah di depan GOR UNY. Setelah saya selesai makan, saya cek handphone karena ada notifikasi WA dari temen saya yang ngajak minum kopi nanti malam. Selesai saya  bales WA, lalu saya kembalikan arah pandangan saya ke wajah Diandra yang sedang minum dengan menghisap es teh menggunakan sedotan tetapi pandangan matanya menyebar kesegala arah. Sedangkan gelas tempat minumnya sudah tidak berisi air teh dan hanya tersisa serpihan es yang perlahan mulai mencair.



Dalam benak saya sedikit curiga karena nggak bisanya dia diam dengan durasi lebih dari empat menit. Saya mulai menerka-nerka dalam batin saya, apa mungkin dia baru mau kedatangan tamu bulanan, atau dia lagi ada masalah, atau hmm.. ahh entah lah. Saya menghentikan percakapan batin saya dengan mengambil gelas minum saya yang berisi teh hangat yang sudah mulai dingin dan sudah tak tampak lagi uap-uap yang tadinya mengepul naik dari mulut gelas. Disaat saya sudah berhasil mempertemukan ujung bibir gelas dengan bibir saya tiba-tiba Diandra teriak.

"Ehh Wan.. liat tuh ada cewek bule seksi gede banget itunya!"
Ucap Diandra sambil menjulurkan tangannya untuk menunjukan arah.

Spontan saya langsung memutar pandangan saya ke arah yang ditunjuk Diandra dengan isi kepala yang penuh rasa penasaran dari ucapan Diandra dengan kata-kata "gede banget itunya" dan sejauh mata saya  memandang di sepanjang Jalan Colombo sekitar GOR UNY, saya sama sekali nggak menemukan orang dengan rambut pirang dan hidung mancung selayaknya ciri-ciri orang bule pada umumnya. Yang saya temukan hanya tukang becak yang sedang duduk menunggu penumpang dan Bus TransJogja yang tiba-tiba lewat. Setelah saya mulai bosan mencari, lalu saya kembalikan pandangan saya ke arah Diandra.

"Mana? Nggak ada bule lewat?" Tanya saya sedikit kecewa karena gagal mengobati rasa penasaran.
"Yahh.. Udah lewat tadi, padahal tadi ada lho. Cepet banget itu bule jalan apa lari ya?"
Kata Diandra asal ngeles.
"Ahh bohong ah, emang apanya yang gede?"
Tanya saya memastikan rasa penasaran yang belum terobati.
"Tas carriernya itu lho yang gede, dia itu tadi bawa tas carrier. Kamu pikir apa? pasti kamu mikir yang jorok kan! Dasar cowok jorok!"
Jawab Diandra ketus.
"Halah pasti kamu bohong kan!"
Kata saya curiga dengan perasaan yang nggak enak.
"Nggak percaya ya udah."
"Ehh.. Itu yang kamu minum bukannya gelas punya ku ya?"
Tanya saya  yang kaget karena tiba-tiba gelas minum Diandra masih terisi penuh.
Dan ini adalah buah kecurigaan yang saya tanam sejak tadi melihat keanehan Diandra yang tiba-tiba diam tidak seperti biasanya. Jadi dia berusaha nge-distract saya dengan bilang kalo ada bule seksi yang lewat dan saat saya lengah karena ter-distract, lalu dia dengan sigapnya menukar gelas minum saya.

"Dihh.. enak aja, orang ini minum aku, itu yang di depan kamu tuh punyamu yang udah abis. Mentang-mentang udah abis ngaku-ngaku punya orang. Pesen lagi aja sana kalo masih haus!" Jawabnya sewot. Padahal aturan saya yang sewot, kan itu minuman saya yang dia minum. Tapi saya cuma bisa pasrah yang penting dia nggak ngambek aja.
"Yaudah aku bayar dulu aja ya." Kata saya dengan nada yang santai agar tidak memancing peperangan.
"Iyaaa..." Jawab Diandra dengan wajah bahagia.

Selesai sarapan, saya langsung anterin Diandra pulang naik motor ke kostnya karena sebelumnya dia bilang ada temennya yang mau main ke kost dia. Nah, dibalik sosok Diandra yang galak, cerewet, suka ngeles, sering ngerjain saya dan banyak hal lainnya yang terkadang menjengkelkan, ternyata dia juga menyimpan sisi baik yang selalu berhasil buat saya jatuh hati sama seperti cerita Diandra di posting yang sebelumnya. Seperti dua mata koin setiap orang selalu memiliki dua sisi yang berbeda dan begitupun dia, kira-kira mungkin seperti itu gambarannya. Saat perjalanan nganter Diandra  pulang ke kost, tiba-tiba dia minta saya buat mampir ke Indomaret yang ada ATMnya, dia bilang.

"Wan, nanti mampir Indomaret yang ada ATMnya bentar ya. Aku mau ambil uang sekalian beli pembalut." Ucapnya.
"Syiapp.. nyonyah!" Jawab saya.

Sampai di depan Indomaret, Diandra turun lalu bergegas masuk dan menghampiri mesin ATM. Tidak begitu lama Diandra keluar dari Indomaret dengan mendorong pintu  yang harusnya dia tarik karena pada gagang pintunya tertulis "Tarik/Pull" lalu berjalan begitu saja, tapi tidak menuju ke arah saya. Dengan rasa penasaran, bola mata saya serta arah pandangan wajah saya bergerak mengikuti arah Diandra berjalan. Terlalu seringnya Diandra menyimpan gimmick-gimmick usil yang sering mengecoh, membuat saya selalu curiga dengan segala tingkahnya. Dalam hati saya bilang.

"Ini anak mau kemana lagi nih? Mau pulang jalan kaki? Atau jangan-jangan ada orang lain yang jemput dia?"

Tapi ternyata semua dugaan saya itu salah. Diandra menghampiri seorang ibu yang sudah cukup tua yang duduk bersandar di dinding di depan samping Indomaret. Raut wajah ibu itu tampak lelah dan berkeringat tapi bibirnya tetap bisa tersenyum lebar saat Diandra menghampirinya. Dia menjual Ubi, Jagung, Singkong dan beberapa buah-buahan yang ditata berjejer rapi di depannya. Di depan pandangan saya terlihat jelas Diandra juga ikut tersenyum bersama ibu itu. Saya nggak tau persis percakapan apa yang sedang mereka bicarakan, tapi yang jelas bisa saya rasain adalah saya ngrasa ikut senang melihat mereka.

Tiba-tiba saya nggak sengaja melihat ada cahaya kecil berkilau yang tampaknya itu adalah air mata si ibu yang menetes lalu mereka berpelukan. Tentu saja hal itu membuat saya terkejut dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang mereka bicarakan. Setelah itu Diandra berdiri dan berjalan menuju ke arah saya dengan senyum cerah di wajahnya.

"Ibu itu kasihan ya." Ucap saya dengan masih memandangi ibu itu dari jauh
"Heh..! Kamu nggak boleh gitu." Sahut Diandra yang sudah ada dihadapan saya.
"Loh.. Kenapa?"
"Nih aku kasih tau ya, ibu itu walaupun udah tua tapi masih mau usaha buat jualan dan nggak ngemis. Sikap yang harus kamu tunjukin itu bukan kasihan tapi kamu harusnya menghargai usahanya. Karena nggak semua orang ingin dikasihani, tapi setiap orang pasti ingin dihargai. Nih, aku beli dari ibu itu" Kata Diandra sambil menunjukan beberapa ubi ungu yang dibungkus plastik yang dia bawa.
"Ohh.. iya..iya.."
"Jangan cuma Ohh aja, kamu harusnya juga malu sama ibu itu. Masa baru gagal bikin usaha sekali aja udah nyerah, coba lagi lah siapa tau gagal lagi usahanya.. hahaa.."
"Kok endingnya gak enak sih?"
"Hahahaa.. Ya nggak gitu, maksudnya kalau yang namanya usaha kan nggak selalu langsung bisa berhasil ada prosesnya. Siapa tau abis gagal terus bisa berhasil."

Begitu kata Diandra, dari situ saya jadi tau kalau ada sisi baik dari Diandra yang selama ini selalu tertutupi dari sifat jailnya. Dan dari Diandra juga, saya jadi tahu tentang arti bersyukur yang sebenarnya. menurutnya, bersyukur itu bukan ketika berkata "Alhamdulillah, ternyata masih ada banyak orang yang masih tidak seberuntung aku." Walaupun diawali dengan kata Hamdallah, menurut Diandra itu bukanlah wujud dari rasa syukur tetapi itu justru menggambarkan kesombongan secara tidak langsung. Diandra pernah bilang.

"Kalau kamu merasa jadi orang yang beruntung lalu kamu bersyukur itu seolah-olah kamu merendahkan orang lain yang masih belum beruntung. Bersyukur itu bukan dengan merasa beruntung dengan apa yang sudah kamu dapat, tapi juga harus bisa berbagi dengan hal-hal yang bermanfaat."

Sejak saat itu saya merasa beruntung pernah dekat dengan Diandra, dan dengan saya membagikan cerita ini harapannya bisa bermanfaat buat kalian yang baca. Karena buat orang yang introvert dan anti sosial semacam saya, bisa dekat dengan orang yang memiliki jiwa sosial dan bisa memahami keadaan dari sesamanya itu semacam anugerah. Ya walaupun pada akhirnya saya dan Diandra kembali dipisahkan oleh takdir, tapi setidaknya ada hal positif dari Diandra yang bisa saya  ambil.





Bersambung...

Friday, 16 November 2018

Story About Diandra 02

Ini adalah cerita lanjutan dari Story About Diandra 01. Cerita kali ini akan mengisahkan tentang betapa jailnya sosok Diandra yang kadang suka bikin saya malu kalo pas lagi saya ajak jalan keluar. Tapi, ada kalanya orang yang biasanya jail, suka iseng atau suka ngerjain dan sejenisnya itu kadang juga bisa ngangangenin, heran saya.
Awal ceritanya dimulai waktu saya ngajak Diandra makan di cafe di daerah Kotabaru Yogyakarta yang pernah saya ceritain di tulisan
Story About Diandra 01. Jadi ceritanya setelah saya selelsai makan bareng Diandra, saya nganterin dia pulang ke kostnya dari daerah Kotabaru Yogyakarta saya anter lewat Jalan Suroto dan pas sampai di traffic light perempatan Gramedia(untuk yang pernah ke Jogja mungkin tau) Saya berhenti. Ngliatin ke arah timer yang ada di traffic light sambil ngurangin gigi motor saya dari gigi empat ke gigi satu. (FYI: motor saya Honda Supra X 125R bukan lagi iklan ya)

"Klik..klik..klik.."
Terdengar tiga kali suara gigi motor yang saya  kurangin dari gear empat ke gigi satu.

Sedangkan Diandara yang duduk di boncengan di belakang saya tampak asyik dengan bermain game di smartphonenya, sambil saya lirik dari kaca spion sebelah kiri saya. Kemudian saya kembalikan arah pandangan saya ke depan ke arah timer traffic light. Dan tidak lama setelah itu ada suara motor dari belakang, dari spion sebelah kanan saya lihat ada Yamaha Vixion warna hitam yang kemudian berhenti tepat di sebelah kanan di samping saya.

Setelah berhenti, mas-mas Yamaha Vixion sebelah saya pun mengurangi gigi motornya. Saya nggak terlalu ngeh sih, cuma denger suara tuas giginya beberapa kali "klik..klik..klik.." tapi tiba-tiba setelah suara yang terakhir saya ngrasa motor saya sedikit goyang. Saya noleh kesamping kanan sambil lihat ke bawah dan berpikir.

"Apa motor mas Yamaha Vixionnya nyenggol motor saya ya, apa kena bagian kenalpot? Apa kena bagian Footstep?" Pikir saya sambil saya  liatin ke samping kanan bawah, tapi saya nggak liat motor saya dan motor mas Yamaha Vixion saling bersenggolan karena ternyata ada jarak yang cukup sekitar satu langkah kaki manusia dewasa.

Terus saya alihkan pandangan saya ke arah spion ngliat Diandra, dia masih tetap asyik dengan gamenya. Pikir saya , "Ahh.. Paling gara-gara Diandra main game sambil gerak-gerak jadi motornya goyang." Sesederhana itu saya berusaha positif thinking. 

Pandangan saya kembali ke posisi default ke arah depan dan nggak lama lampu hijau pun menyala. Lalu tangan kanan saya langsung auto muter handle gas tapi motor saya nggak jalan dan hanya terdengar suara mesin meraung dari knalpot

"Rrrrrrngggg...!!!"

Spontan mas Yamaha Vixion di samping saya yang sudah jalan pelan hampir melewati zebra cross langsung noleh ke kiri ke arah saya  sambil ngliatin saya dan terdengar suara berdecit dari ban motor yang bergesekan dengan aspal karena putarannya terhenti mendadak yang disebabkan oleh piringan cakram motor Yamaha Vixion yang terjepit kampas rem dari kaliper dengan dua piston.

"Ciitttt...!"

Mungkin dia ngira kalo saya nantangin soalnya suara motor saya ngegas banget. Dan saya panik, dari arah belakang suara klakson pun mulai berisik dan ditambah Diandra yang tiba-tiba ngagetin saya, mukul kepala saya dari belakang pakai dompetnya dia yang panjang sambil bilang.

"Dimasukin dulu giginya, emangnya kamu pikir lagi naik motor matic?!"

Dipukulnya sih nggak sakit, soalnya saya kan pake helm cuma malunya itu gaes, berhenti di traffic light paling depan dalam keadaaan panik. Saya sempet mikir motor saya bermasalah kaya misalnya rantainya lepas atau yang lainnya yang bikin motor nggak bisa jalan, tapi ternyata cuma karena giginya masih netral. Seketika itu juga langsung saya injek tuas gigi kedepan, masukin gigi satu dan langsung gas.

Setelah agak jauh dari traffic light perempatan Gramedia saya pelanin kecepatan motor saya dan melihat ke arah kaca spion sebelah kiri dan saya mendapati wajah Diandra senyum-senyum menahan tawa lalu menutupi bibirnya dengan tangan untuk menahan lepasnya suara tawa dari mulutnya. Dari situ saya mulai curiga, dalam hati saya "Kenapa dia malah ketawa? padahal saya barusan panik gegara diklaksonin banyak orang." 

"Ehh tadi di lampu merah kamu yang mindahin gigi motor jadi netral ya?" Tanya saya.
"Dihh! Nih aku tanya, yang bawa motornya siapa?" Tanya balik Diandra.
"Yang bawa aku."
"Nah tuh, orang yang bawa motor kamu kenapa nanya ke aku?!" Jawab Diandra dengan suara yang lantang, cepat dan sedikit sewot.

Di sepanjang jalan saya diam sambil mikir, "Ini kayanya saya yang dikerjain kenapa malah dia yang sewot? Aturan kan saya yang nggak terima."

Akhirnya sampai di depan kost, Diandra turun dan saya menanyakan lagi buat memastikan atau lebih tepatnya saya pengen dia ngaku tapi jawabanya sama malah saya diusir suruh buruan pulang. Dan seinget saya ini bukan yang pertama kalinya. Dulu juga pernah waktu saya  ngantri beli bensin di SPBU, saya udah netralin gigi dan matiin mesin motor tapi Diandra masih duduk dengan sweetnya di belakang saya. Karena mesin motor udah saya matiin, mau nggak mau saya harus dorong motor kan. Dan pas saya dorong motornya kaki Diandra langsung nginjek tuas gigi ke belakang, otomatis gearbox motor langsung masuk ke gigi empat dan motor stuck berhenti nggak bisa maju.

Itu salah satu hal iseng yang sering dia lakuin kalo saya ajak pergi naik motor. Dan setelah kejadian itu saya lebih sering minjem motor kakak saya yang matic. Udah deh sampai sini dulu ceritanya, besok-besok saya sambung lagi.


CERITA SEBELUMNYA : Story About Diandra 01




Tulisan ini adalah salah satu usaha buat terapi dan latihan nulis lagi by the way.. 




Tuesday, 30 October 2018

Story About Diandra 01

Temen-temen gue bilang katanya gue orang yang nggak bisa move on dari masa lalu, mereka bilang gitu soalnya gue sering cerita tentang orang-orang yang pernah deket sama gue dulu. Sebenernya bukan karena gue nggak bisa move on atau belum move on, justru karena gue udah move on jadi gue bisa cerita. Mungkin terdengar naive tapi gue berusaha untuk bersahabat dengan masa lalu. Atau banyak juga teman gue yang bilang kalo gue belum move on soalnya gue sering update kata-kata melow di sosial media. Gak gitu woy! Nah, buat beberapa dari kalian mungkin belum tau cerita tentang masa lalu gue kan? Mending gue cerita aja dulu.

Jadi ceritanya gini,


Namanya Dianda Nafira, suatu hari gue ngajak Diandra makan di suatu cafe di dekat Kridosono daerah Kotabaru Yogyakarta. Kami datang lalu memesan makanan dan tidak begitu lama makanan yang kami pesan pun diantarkan waiter ke meja kami, tetapi masih ada pesanan yang belum lengkap yaitu minuman dan dessertsnya. Waktu itu gue pikir waiternya cuma telat aja nganternya, tapi ternyata telatnya lama. Diandra sudah habis hampir setengah porsi makanan yang dia pesan lalu dia tersedak dan minuman yang kami pesan masih juga belum datang. Gue masih sibuk makan dan misahin daun seledri yang ada di makan gue, sekilas gue lihat raut mukanya mulai cemberut. Terus tiba-tiba dia berdiri lalu berjalan menuju ke arah kasir, dalam hati gue.


"Wahh.. Gawat nih, mau ngamuk nih kayanya gara-gara minumannya belum dateng. Duhh.. Harusnya tadi gue tahan dulu biar gue yang bilangin ke kasir atau waiternya."


Tapi dugaan gue salah dan apa yang gue lihat waktu itu seketika wajah Diandra berubah kembali segar normal seperti biasanya. Dan yang lebih diluar dugaan lagi dia justru tersenyum lalu berkata.


"Maaf mbak, mau minta tolong untuk pesanan di meja sembilan masih ada yang kurang minuman sama dissertnya belum."


"Ohh iya, saya cek dulu. Yang meja sembilan ya."


Jawab kasirnya sambil mencari nota pesanan yang sepertinya terselip atau berada diurutan yang salah dan membuat pesanan kami menjadi kurang lengkap. Dan setelah dicek memang benar ada kekeliruan, setelah selesai mengecek pesanan Diandra kembali duduk, dia tersenyum kepada mbak penjaga kasir sambil mengucapkan.

"Terimakasih." 


Dari kejadian itu gue baru sadar bahwa Diandra adalah perempuan yang bisa bersikap dengan baik disaat ada hal-hal yang sebenarnya membuatnya merasa jengkel. Dan dia adalah orang yang tidak pernah lupa mengucapkan kata maaf, tolong dan terimakasih kepada orang lain dalam keadaan apapun, meskipun bukan dia yang salah.
Mungkin hal itu terlihat sederhana atau biasa saja tapi buat gue Diandra luar biasa karena dalam kasus yang sama gue pernah juga ngajak cewek makan pizza disuatu tempat makan yang menunya spesialis pizza tapi waktu itu cewek yang gue ajak justru komplain karena rasa keju yang ada di pizzanya berbeda dari yang sebelumnya dia pernah beli ditempat yang sama. Dan saat itu gue ngrasa malu abis itu gue kapok nggak mau ngajak jalan cewek yang rewel cuma gara-gara keju.


Hal lain dari Diandra yang gue kagumi adalah dia bisa membuat orang lain bisa merasa bersalah tanpa dia harus marah-marah. Karena setelah dia minta cek nota pesanan di kasir nggak lama waiternya datang membawa pesanan kami dan meminta maaf dan memberikan tambahan float eskrim kepada kami sebagai tanda permintaan maaf karena kami nggak pesan eskrim sebenarnya. Kejadian ini bikin gue jadi belajar dari Diandra kalau untuk membuat orang lain menyadari kesalahannya tidak harus kita beritahu dengan sikap emosi atau kita marahi. Mungkin gue nggak bisa menemukan lagi perempuan yang sama persis seperti Diandra dan gue juga nggak akan membandingkan orang yang nantinya ada di masa depan gue dengan Diandra, tapi setidaknya gue sudah belajar dari masa lalu tentang bagaimana cara untuk bersikap lebih baik.
 

Nah, dari cerita inilah salah satu penyebab temen gue bilang kalo gue belum move on. Tapi sebenernya gue merasa beruntung pernah deket sama cewek seperti Diandra. Karena gue jadi bisa belajar bagaimana biar bisa bersikap lebih baik, buat anak introvert yang anti sosial seperti gue itu amazing!

Segini dulu, besok gue sambung lagi.