Sunday, 30 September 2018

Belum Move On? 5 Hal Ini Yang Membuat Sulit Move On

Belum move on? Beberapa orang sedikit kesulitan untuk move on, move on yang berati untuk melupakan masa lalunya. Kenapa kebanyakan orang nggak bisa move on? Apa yang membuat orang nggak bisa move on? Tolak ukur apa yang bisa dijadikan acuan seseorang itu sudah move on atau belum? Mungkin masing-masing orang bakal punya jawaban yang berbeda.



Masa lalu, hal yang identik dengan kenangan di kehidupan sebelumnya dan beberapa orang ingin melupakannya. Kenapa? Mungkin karena kenangan itu adalah kenangan yang kurang menyenangkan. Padahal seharusnya setiap momen yang pernah kita habiskan kalau itu bersama seseorang yang pernah dekat dengan kita bisa menjadi momen yang membahagiakan selama tidak ada hal-hal yang menimbulkan trauma tentunya.

"Karena yang seharusnya dikenang adalah hal-hal yang dulunya pernah menimbulkan perasaan senang, bukan hal-hal yang membuat sudut kelopak mata berkumpul air mata yang menggenang"

Nah masa lalu yang bisa dikenang itu bermacam-macam, misalnya masa lalu tentang keluarga waktu masih kecil, masa lalu sama temen main waktu masih kecil atau masa lalu bersama kekasih hati yang dulu "pernah dekat". Ini nih yang terakhir yang biasanya bikin orang nggak mau inget masa lalunya atau enggan buat mengenang tentang itu.

Apa yang menyebabkan orang enggan untuk mengenang masa lalunya? Dan cenderung ingin melupakan masa lalu tersebut. Sebagian besar jawabannya adalah karena kisah itu sudah berakhir dan tidak ingin diungkit lagi, bener sih. Tapi kadang ada hal yang susah buat kita lupakan meskipun kita tidak berusaha untuk mengingat atau mengenangnya, misalnya yang di bawah ini



1.Sulit Melupakan Kebiasaan

Memang susah menghapus atau melupakan perasaan tapi lebih susah lagi melupakan kebiasaan. Karena hal-hal yang sering dilakukan bersama yang akhirnya menjadi rutinitas biasanya akan menjadi kebiasaan yang sulit dirubah. Dulu waktu gue masih deket-deketnya sama cewek yang gue taksir, kami sering melakukan komunikasi lewat telpon karena gue lebih suka ngomong dari pada ngetik via chat. Sampai akhirnya suatu hari waktu gue masih kerja(belum jadi pengangguran) setelah pulang dari kantor gue mampir ke konter HP dan membeli pulsa tanpa gue sadar. Sesampainya di kost gue baru sadar buat apa gue beli pulsa kalau orang yang biasanya gue telpon sekarang udah bukan siapa-siapa gue, nggak lebih dari temen biasa yang sebelumnya pernah dekat. Akhirnya pulsa yang terlanjur gue beli gue jual lagi. -_-

 
2. Kehilangan Bayangan Tentang Masa Depan

Sebagian orang berpikir terlalu jauh ketika mereka menjalin sebuah hubungan, termasuk gue. Selama menjalin hubungan dekat dengan seseorang terkadang gue memikirkan tentang rencana atau lebih tepatnya berkhayal tentang masa depan dan membicarakan tentang masa depan bersama pasangan dan itu biasanya akan menjadi hal yang paling membekas nantinya. Gue punya hobi desain grafis, gue suka gambar walaupun gue sebenernya nggak pernah bisa gambar secara manual. Suatu hari gue bikin desain tentang interior rumah. Awalnya gue cuma membayangkan tentang desainnya kemudian gue bikin desain dinding rumah yang dihias mural dan typografi bertuliskan nama dari orang yang spesial, kemudian gue save di suatu folder yang gue kunci. Sampai suatu hari ketika datang waktu perpisahan dan hubungan yang gue jalin berubah jadi udahan, gue nggak sengaja nemuin lagi folder yang pernah gue kunci itu. Pas gue buka lagi hati gue berasa kram, akhirnya gue hapus folder berisi tentang desain untuk masa depan itu. Gue tekan deletenya sambil tutup mata karena nggak tega waktu mau hapus. Pas gue buka mata gue nangis sambil teriak karena gue baru sadar tangan kiri gue bekas pegang cabe dan kena sambel pas gue pake buat nutupin mata.
 

3. Teringat Tempat Yang Berkesan

Setiap orang pasti memiliki tempat yang berkesan, tempat yang menyimpan kenangan yang bisa mengingatkan akan sesuatu atau seseorang. Biasanya seseorang akan mengajak ke suatu tempat yang indah, tempat yang menarik, tempat yang menyenangkan bersama orang yang spesial untuk menghabiskan waktu bersama. Dan momen menghabiskan waktu bersama orang lain adalah hal yang tidak bisa digantikan, karena satu hal yang semua orang punya tetapi tidak semua orang bisa memberikan adalah waktu dan ketika waktu itu sudah diberikan maka tidak bisa dikembalikan lagi atau diganti. Ketika kita datangi kembali tempat yang sama di waktu yang berbeda dengan keadaan yang berbeda juga rasanya akan menjadi berbeda, meskipun kenangan yang teringat tetap tentang orang yang sama.
 

4. Hidup Menjadi Tidak Beraturan

Ada orang bilang kalau cewek patah hati dia bakal nangis, sedih murung berhari-hari tapi kalo cowok patah hati biasanya dia bakal jadi nakal, liar dan hidupnya nggak teratur. Entah benar atau nggak ungkapan itu, coba tanya orang lain yang patah hati. Tapi itu yang gue alami, beberapa hari gue bangun tidur kesiangan terus dan susah bangun pagi. Sebelumnya hidup gue teratur, gue selalu bangun pagi dan ngajak Diandra(masa lalu gue) sarapan, gue juga selalu ngerjain hal-hal yang seharusnya gue kerjain dengan tepat waktu karena ada orang yang selalu jadi alasan buat gue berusaha menjadi lebih baik dan nggak bermalas-malasan. Dan sekarang gue harus menemukan alasan itu dalam diri gue sendiri, demi diri gue sendiri.
 

5. Cenderung Membandingkan Dengan Orang Lain

Setiap orang punya cara berkomunikasi yang berbeda-beda. Ada yang mungkin terbiasa dengan obrolan yang singkat, ada yang suka obrolan serius, ada juga mungkin yang ngobrol seperlunya aja tanpa basa-basi. Kadang gue suka membandingkan cara berkomunikasi orang lain yang gue kenal dengan masa lalu gue. Dan memang berbeda, memang akan lebih nyaman ketika kita bercerita atau ngobrol dengan orang yang sudah terbiasa dengan cara kita berbicara atau berkomunikasi. Karena penyampaian atau delivery setiap orang ketika berbicara akan terdengar berbeda. Untuk bisa move on kita nggak bisa menuntut orang lain atau orang baru bersikap sama seperti masa lalu kita dan itu akan menyakitkan, karena setiap orang tidak suka dibanding-bandingkan.

Ada kalimat perpisahan sebelum gue mengakhiri masa lalu gue dulu, kalimatnya gini. “Akan selalu ada yang lebih baik(cantik/tampan) dari aku, tapi tak akan ada yang sama. Karena tak ada yang bisa mencintaimu dengan cara ku.” Jadi jangan sampai karena kita masih membandingkan dan mengharapkan orang yang sama seperti orang yang ada di masa lalu kemudian kita tidak bisa move on. Karena move on itu bukan tentang melupakan tetapi mengikhlaskan yang dulu pernah ada dan membiasakan dengan keadaan baru yang sekarang dijalani. Kira-kira itu sih yang gue rasain, mungkin berbeda dengan orang lain. Itu dulu dari gue, terimakasih kalau udah baca..bye..

Saturday, 8 September 2018

Tentang Chatting yang Tidak Dibaca

Jika kalian mengirim pesan atau chat tetapi tidak dijawab atau bahkan tidak dibaca berarti itulah jawabannya. Jadi gue mau bahas tentang chat yang nggak dibalas atau lebih ke chat yang sama sekali nggak dibaca. Kita semua tahu kalau fasilitas pengiriman pesan jaman sekarang ada banyak macamnya. Coba bandingkan jaman dulu orang mau ngash kabar harus pakai telegram pakai sandi morse yang karakternya terbatas (bukan telegram yang sekarang jadi aplikasi ya) atau kirim surat lewat pos kalau nggak antri buat telpon di wartel (warung telepon) yang sekarang keberadaannya sudah tidak ada. Itu semua dilakukan hanya karena ingin memberikan kabar kepada seseorang, keluarga atau kerabat dekat yang terpisah jarak.


Jaman sekarang lebih gampang asal ada kuota internet sambil tiduran pegang smartphone bisa langsung ngirim pesan/chat via aplikasi ada BBM, Whatsapp, Telegram, LINE atau aplikasi sosial media yang juga bisa buat ngirim chat dan karakter yang dikirim pun tidak dibatasi bisa ngirim banyak bahkan kirim emot atau stiker pun bisa tidak seperti SMS yang kalau mau ngirim gambar yang lucu harus berusaha menyusun karakter/tanda baca sedemikian rupa sampai bisa jadi bentuk gambar.

Anak jaman sekarang mungkin nggak tau gimana susahnya nyusun karakter seperti ini, walau pun ini alay tapi ini pernah populer di jamannya.



Tapi semakin mudahnya kita mengirim pesan dengan fasilitas yang semakin canggih tidak kemudian membuat komunikasi berjalan baik seiring berkembangnya jaman. Permasalahannya adalah bagaimana seseorang itu dapat memanfaatkan fasilitas yang seharusnya bisa digunakan untuk membuat komunikasi menjadi semakin baik? Karena ada beberapa perilaku orang yang menurut gue kurang tepat dalam berkomunikasi atau dalam menanggapi chatting/pesan.

Kaya misalnya gini, kebetulan gue punya temen yang belum lama ini dia cerita kalau dia diminta jadi PIC suatu acara tapi selama dia jadi PIC dia merasa ada masalah sama salah satu temen yang jadi subordinate di timnya. Kemudian salah satu temennya itu susah dihubungi setiap di chat nggak pernah dibaca padahal orangnya ada, masih hidup dan dalam keadaan sehat artinya sama sekali nggak ada alasan buat dia nggak baca chat atau balas chat tetapi status chat di BBMnya tetap D selama berhari-hari. Buat gue oarng yang selalu menyimpan chat dalam keadaan nggak dibaca dala waktu yang lama itu aneh gaes. Buat apa coba nggak dibaca? Tapi tetap disimpan dan nggak dihapus atau di clear chat. Pernah juga gue lihat ada temen cewek gue waktu itu dia buka aplikasi Instagramnya di pojok kanan atas ada notifikasi DM dan masih belum dibuka dia cuma scroll dari notification bar dan baca sekilas isi DMnya kemudian dia tutup lagi. Dan gue sempet nanya, meskipun nggak ada jawabannya juga.

“Ehh itu ada notif DM kok nggak dibaca?” Tanya gue terlepas dari ketidak tahuan gue entah itu DM dari mantannya, temennya, gebetannya atau pacarnya.

“Hmm biarin aja deh.”

“Lohh kenapa nggak dibaca?”

“Ya nggak apa-apa.”

Mungkin gue terlalu ingin tahu alasannya bukan ingin tahu dari siapa, tapi tetep nggak ada jawabannya. Dan satu lagi gue pernah PDKT sama seorang cewek, gue chat dia lewat BBM dengan status chatnya yang juga sama D bener-bener nggak dibaca atau kalau gue boleh bilang nggak dibuka, karena nggak mungkin sama sekali nggak dibaca paling nggak dia sempet baca sebagian isi chatnya di saat keluar notifikasi chat masuk di notification bar. Beberapa minggu kemudian gue chat lagi dan chat yang terakhir baru dibaca, karena gue juga masih nyimpen history chat yang minggu sebelumnya jadi gue juga bisa lihat status chatnya berubah jadi R itu artinya dia juga masih nyimpen history chatnya. Terus kenapa selama ini nggak dibaca? Sedangkan kalaupun misalnya dia nggak bales juga gue nggak bakal dendam, marah, ngamuk atau guling-guling di jalan. Seolah-olah mereka yang selalu mengabaikan chat ini beranggapan gini.

“Kalau gue baca terus nggak gue bales nanti dikira sombong.”

“Yaudah kalau gitu nggak gue baca aja deh.”

“Gue kan nggak baca chatnya jadi nggak perlu gue jawab.”

Atau mungkin ada yang beranggapan lain, tapi kalau menurut gue sih itu anggapan yang salah. Jadi itu malah seakan-akan dia berusaha membodohi dirinya sendiri dengan harapan si pengirim akan beranggapan gini.

“Chat gue belum dibalas kenapa ya?”

“Ohh belum dibaca, mungkin dia belum buka notif di smartphonenya.”

Kalau ada yang beranggapan seperti ini, orang seperti itu terlalu bodoh hidup di jaman milenial. Karena nggak akan mungkin orang akan melewatkan notifikasi kecuali dia dalam keadaan yang urgent banget misal lagi bawa motor, lagi sakit atau ada hal yang membuat dia nggak bisa pegang smartphone. Tapi kalau menurut gue hal itu nggak akan terjadi dalam waktu yang lama soalnya orang jaman sekarang nggak bakal bisa hidup kalau nggak pegang smartphone, kadang orang yang lagi bawa motor/mobil aja masih nekat sambil pegang smartphone/balas chat. Orang itu pasti akan selalu menyempatkan membuka smartphonenya bahkan dalam keadaan yang seharusnya dia nggak boleh menggunakan smartphone. Banyak kasusnya misalnya seperti yang tadi sudah dibahas sedang di jalan bawa motor sambil membalas chat, di dalam pesawat atau sedang mengisi bahan bakar di SPBU. Dalam keadaan atau di tempat yang itu membahayakan diri mereka bahkan juga orang lain, mereka masih tetap tidak mau berpisah dengan smartphonenya. Sekarang balik lagi ke kasus chat yang nggak dibaca tadi, apa kira-kira masih mungkin orang akan mengabaikan notofikasi di smartphonenya? Gue rasa sih nggak mungkin. Dan dari sisi pengirim juga nggak mungkin terlalu bodoh untuk dibodohi kalau chatnya belum dibaca. Paling tidak si penerima baca sekilas isi chatnya atau tahu ada chat masuk lewat notification bar atau lewat pop-up kalau aplikasi chatnya di setting pop-up.


Lalu kenapa masih tidak dibaca? Apa sebenarnya yang menjadi masalah? Salah satu jawabannya itu karena orang yang tidak mau membuka chat atau pesan di smartphonenya itu biasanya adalah orang-orang yang takut menghadapi masalah. Mereka nggak berani bilang kalau mereka nggak mau balas chatnya, mereka nggak berani bilang kalau mereka nggak suka diajak ngobrol/chatting atau mereka takut dianggap jutek, sombong karena sudah terlanjur dibaca tapi tidak membalas chat atau mungkin ada ketakutan yang lain. Dan pada akhirnya mereka menjawab chat tersebut dengan cara tidak membalasnya dan itulah jawabannya, di jaman modern dengan banyaknya fasilitas aplikasi chatting pada akhirnya mereka hanya membalas dengan isyarat. Biasanya perilaku seperti ini didominasi oleh perempuan. Betapa tidak bergunanya aplikasi chatting yang sudah dikembangkan para developer aplikasi. Ini lah salah satu bentuk kegagalan berkomunikasi dimana orang tidak bisa benar-benar frankly atau berterus terang pada lawan bicaranya, mungkin juga ini adalah cara mereka untuk menjaga perasaan lawan bicaranya tapi kalau menurut gue ini cara yang kurang tepat.
or it’s also an answer

 
Tapi di cerita lain gue juga punya temen yang fast respon kaya CS Online Shop kalau di chat, jadi kalau di Whatsappnya online dia pasti langsung balas chat yang gue kirim dan status onlinenya berubah jadi typing. Meskipun dia juga pernah nggak bales chat dari gue jadi dia cuma baca aja waktu status Whatsappnya masih online kemudian nggak berubah menjadi typing karena langsung dia tutup. Tapi gue nggak apa-apa yang penting pesan gue sudah dibaca, dia sudah tau apa yang ingin gue sampaikan. Dan dia nggak takut gue bilang sombong karena nggak bales chat gue dan gue sendiri juga nggak bakal bilang dia sombong justru gue sudah merasa cukup dihargai dengan dia baca chat gue karena chat gue juga nggak berisi pertanyaan yang harus dijawab. Walaupun gue tahu chat gue dibaca hanya saat status Whatsappnya online karena dia menon-aktifkan fitur Last seen dan Read receiptsnya, tapi itu nggak masalah karena setiap orang punya hak buat setting smartphonenya sesuai yang mereka inginkan. Gue sendiri menon-aktifkan fitur PING! di aplikasi BBM karena menurut gue fitur itu kurang fungsional.


Kurang lebih itu menurut gue, jadi setidaknya baca lah pesan masuk yang ada di smartphone karena tujuan dari si pengirim adalah menyampaikan pesan tidak selalu meminta balasan (walaupun kebanyakan menginginkan balasan juga) dan tidak ada yang perlu ditakuti dengan membacanya, menurut gue sih. Tapi mungkin ada juga yang punya pendapat lain, segini dulu share dari gue kalau ada yang salah atau kurang berkenan dibaca gue minta maaf, gue cowok dan cowok selalu salah karena yang selalu benar adalah cewek. Thanks by the way.

Friday, 7 September 2018

Real Lyfe, Selama Vakum Ngisi Blog

Hai gaes,
Rasanya gue bedosa banget buka blog ini dan nulis lagi. Jadi udah lama ini gue nggak pernah update blog ini dikarenakan gue (sok) sibuk dengan hal lain. Ceritanya gue ini lagi ngrasa hilang arah, setelah beberapa kali hati ini patah, lalu berusaha bangkit meski terengah-engah, ya pokoknya gitu lah. Intinya kalo dulu kan gue sering posting tulisan-tulisan yang random nggak jelas dan mulai postingan ini dipublish gue bakal lebih fokus buat makin random lagi postingnya. Ehe!



Dari dulu sebenernya kan gue pengen banget bisa nulis, tapi ternyata nulis itu tidak semudah membalikan telor dadar yang digoreng. Ada teknik untuk menulis yang baik dan enak dibaca, semua orang mungkin bisa nulis tapi nggak semua tulisan menarik untuk dibaca, iya nggak sih? Dan yang paling penting adalah konsisten untuk menulis itu yang kadang juga susah, kadang rasanya males kadang males banget, kan susah.

Gue pengen belajar tentang teknik menulis misalnya kaya copy writing, trus cara nulis headline yang menarik atau cara menyusun kata yang menarik, gitu. Kemudian dari situ gue mencoba googling, apa sih jaman sekarang yang nggak digoogling. Tapi hasil yang gue dapatkan kurang sesuai harapan. Well akhirnya gue cuma belajar cara nulis yang baik itu cuma dari artikel hasil browsing-browsing itu aja. Phew..

Tapi Tuhan itu memang maha mendengar doa umatnya, akhirnya gue dapet kesempatan buat belajar digital marketing di salah satu perusahaan marketplace digital Indonesia yang kantor pusatnya di Solo. Waktu itu gue belajar sebagai affiliate marketer di kantor cabang yang ada di Jogja selama satu bulan. Gue seneng banget dong walaupun cuma sebentar dan karena kekurangan gue, materi yang disampaikan pun cuma sedikit yang bisa nyantol diotak gue yang udah rada karatan. Tapi nggak apa-apa, paling nggak gue sedikit mengerti tentang dasar-dasar digital marketing.

Dan sekarang tugas gue adalah mengembangkan apa yang udah pernah gue pelajari. Nah nggak lama setelah gue belajar digital marekting itu terus ada beberapa temen gue yang ngajakin buat belajar lebih serius. Jadi di Jogja itu merupakan kota dengan banyak kumpulan komunitas yang beragam dan gue pengen banget jadi bagian dari mereka, tapi kekurangan gue sebagai orang anti sosial selalu menghambat gue dengan perasaan ragu, takut, malu dan macem-macem deh.

Padahal mungkin mereka ngajak gue tanpa memperdulikan hal itu dan ketakutan gue itu terlalu berlebihan. Pertanyaannya, kenapa sampai gue takut? Iya, gue cuma kadang takut terjadi interaksi yang nggak sesuai harapan gue aja sih. Jadi, gue sebenernya udah beberapa kali belajar tentang digital marketing ini jauh-jauh hari tapi nggak terlalu serius dan gue pernah nanya ke beberapa temen juga. Tapi nggak pernah dapet jawaban yang gue harapkan, beberapa temen ada yang bilang kalo nggak semua mau ngajarin, ada yang mau ngajarin tapi berbayar(sebenernya gue sih nggak masalah kalo harus bayar yang penting beneran ngajarin) dan yang bener-bener mau ngajarin biasanya cuma orang baik. 

Dan salah satu temen gue nambahin lagi katanya dia bilang "kalo kamu punya skill dan dengan skill yang kamu punya kamu bisa dapet apa aja yang kamu mau, trus apa kamu mau berbagi sama orang lain? Yang kemungkinan orang yang kamu ajak berbagi itu bisa jadi pesaing buat kamu?" dan komentar temen gue yang lain bilang katanya "Rezeki itu udah diatur, setiap orang punya jalan rezeki yang beda-beda walaupun pake cara yang sama lho ya." ini komentar temen gue yang positif.
Nah, itulah sekedar kegelisahan gue selama vakum ngisi blog ini. Next posting semoga gue bisa konsisten nulis lagi. Adiuuu..

Sunday, 25 December 2016

Apa itu Ambigram? Bagaimana membuat Ambigram?




Apa itu ambigram?

Ambigram itu tulisan yang bisa dibaca dari dua arah atau diputer, pengertian secara gampangnya sih gitu. Nah kalo kata wiki

Ambigram adalah desain typografi atau seni yang bisa dibaca sebagai satu kata atau bahkan lebih jika kita melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Sumber WIkipedia.org

Typografi sendiri banyak macamnya yang sekarang lagi ngehits banget atau lagi ngetren itu Typografi Lettering. Saya sendiri sebenarnya tertarik dengan seni menulis Lettering ini tapi sangat perlu diperhatikan setiap detail dari susunan huruf yang digunakan dan saya masih perlu banyak belajar untuk itu.









Nah contoh lettering yang kaya gini

sumber gambar : google.com


Mungkin masih banyak lagi seni jenis-jenis seni typografi yang lain tapi yang akan saya bahas disini tentang ambigram saja dulu. Dan sekedar info yang perlu sekali kalian ketahui kalo ambigram itu sama sekali ga hubungannya dengan Instagram dan ini info yang sangat penting.

Kalo dari Douglas R. Hofstadter (Akademisi Amerika) memberikan definisi ambigram sebagai “Calligraphic design that manages to squeeze two different readings into the selfsame set of curves.”

Dari sejarahnya seni ambigram sendiri sudah berusia lebih dari 100 tahun. Ambigram tertua yang berhasil ditemukan dan berhasil didokumentasikan dibuat pada tahun 1893 tapi tidak menutup kemungkinan sudah ada orang lain yang lebih dulu membuatnya.

Adalah karya Peter Newell tahun 1893 pada halaman terakhir bukunya yang berjudul Topsys and Turvys dia menulis kata “THE END” yang bila dibalik akan terbaca “PUZZLE”. Dengan jeda yang cukup panjang sembilan tahun kemudian “Topsys and Turvys 2” diterbitkan. Peter Newell adalah seniman yang dikenal karena buku anak-anak dan ilustrasi untuk karya-karya Mark Twain dan Lewiss Carroll.

Bagi orang awam, pasti tidak tahu apa itu ambigram. Ya! karna memang istilah ambigram sangat jarang sekali kita dengar, tapi bagi orang yang sering berkutat di dalam dunia desain grafis, mungkin ambigram bukan suatu istilah yang asing lagi. Ambigram adalah suatu seni kaligrafi dimana gambar yang dihasilkan bukan hanya bisa dibaca dari satu arah, tetapi dari arah kebalikannya (diputar). Berikut saya tunjukan salah satu contoh tulisan ambigram yang paling terkenal :






Cover Novel Angels and Demons karangan Dan Brown



Bagaimana cara membuat ambigram?

Seniman ambigram disebut ambigramis dan membuat ambigram bukan hal yang mudah, tidak ada cara yang benar-benar umum atau pasti yang dipakai dalam proses pembuatan ambigram karena jenis-jenis ambigram pun bermacam-macam. Yang pasti untuk membuat ambigram membutuhkan kreativitas tinggi supaya dapat menggabungkan susunan huruf, pola serta letak hurufnya supaya dapat dibaca ketika diputar atau dibalik. Namun saat ini sudah mulai banyak aplikasi ambigram generator yang bisa digunakan untuk membuat ambigram. Berikut ini beberapa contoh ambigram yang saya coba buat sendiri.


fiky, rotational ambigram




briant
finda, mirror ambigram

Berbeda dengan jenis rotational ambigram yang dapat dibaca dengan kata yang sama diputar, mirror ambigram dapat dibaca dari berlawanan arah(kanan-kiri).
nadia x rizky, Symbiotograms

Symbiotograms, atau ambigram asimetris adalah ambigram yang memiliki dua kata yang berbeda jika diputar. Selain itu masih ada juga jenis ambigram seperti Circle Ambigram, Perceptual Shift Ambigram dan lainnya.


Nah kira-kira seperti itu dulu tentang ambigramnya untuk contoh ambigram yang lain mungkin bisa dicek di IG @rahmatdwis_ Gimana? Tertarik untuk membuat ambigram?

Saturday, 19 November 2016

Diandra Nafira (Cewek Gamer)



 Hari selasa, harusnya gue hari ini ga ada kuliah tapi minggu lalu ada mata kuliah yang kosong karna dosennya ga berangkat akhirnga jam kuliah dipindah hari ini sebagai kuliah pengganti. Padahal gue hari ini juga ada jadwal ngisi parttime. Jadi kegiatan gue hari ini dimulai dari ngantri mandi jam 06.30 udah standby dengan handuk yang gue kalungin di leher. Kuliah dimulai dari jam 07.00 sampai 09.00 dua SKS abis itu gue lanjut ke kedai dan berubah wujud dari mahasiswa menjadi waiter parttimer.

Setelah gue mandi kemudian gue balik lagi ke kamar gue yang penuh dengan rajau. Iya ranjau, jadi di kamar gue banyak barang-barang yang sering lupa gue rapiin jadi kadang kaki ga sengaja nginjek isi stapler/hecter, kadang nginjek resistor/kapasitor, iya itu yang semacam komponen elektronik bentuknya kecil trus ada kaki-kakinya dari logam dan itu bisa nancep di telapak kaki bahaya banget kan kamar gue? Dari ganti baju, dandan seadanya kemudian gue berangkat.

Sesampainya di kampus gue cari ruang kuliah penggantinya dan ternyata ruangannya sudah penuh dengan mahasiswa junior gue yang berangkat lebih awal, iya mereka junior gue karna gue ngulang mata kuliah ini. Oiya letak kampus gue  ada di Jalan Persatuan dekat perempatan mirota kampus kalo tinggal di Jogja pasti tau. 


FMIPA Selatan
Kalo dilihat dari google map kaya gini kampus gue dulu yang bentuknya kaya letter E kebalik.
Kalo yang belakangnya yang bentuknya beneran letter E itu Kampus Teknik Mesin kalo ga salah sih.


Gue masuk ruang kuliah dari pintu belakang, ada empat pintu di ruang kuliah dua di sisi kanan dan dua lagi di sisi kiri. Gue duduk di barisan paling belakang, selama jam kuliah gue cuma bengong kemudian ambil henpon nyalain wifi dan browsing artikel-artikel yang menurut gue menarik, selama jam kuliah gue cuma sibuk dengan kegiatan gue sendiri. Setelah jam kuliah selesai gue kebingungan karna binder yang gue bawa masih kosong bersih tanpa goresan ballpoint, kemudian gue nepuk bahu junior gue yang duduk tepat di depan gue.

"bro pinjem bindernya bentar bro.." kata gue
"iya, ini mas." jawabnya singkat.
maklum lah, mungkin dia rada takut karna tau kalo gue mahasiswa angkatan lama yang pemalas padahal gue ga serem sama sekali dan biasanya mahasiswa angkatan baru masih nurut dan rajin mencatat jadi ya gue pinjem aja catetannya.
"cekrek.." suara shutter kamera henpon, gue jarang banget nyatet karna gue males jadi lebih sering difoto, foto copy atau copy materi soft filenya.
"Ini mas materi yang barusan aku masih ada copyannya." kata junior gue ngasih fotocopy meteri dan beberapa contoh soal.
"Grartisn nih?"
"Iya mas ambil aja, aku masih ada kok sisanya."
"Wah.. kamu baik sekali, semoga kamu cepat lulus ya."
"Hahaa.. iya semoga masnya juga."
"Halah.. tenang lakon ki lulus keri."
(halah.. tenang pemeran utama tuh lulusnya belakangan)
"Wahh hati-hati lho mas nanti ga lulus-lulus."
"Eits.. yo jangan, semester depan aku lulus kok hahaa..."
"Amin mas."
"Yaudah makasih ya fotocopy materinya, buru-buru nih."
"Iya sama-sama, mau kemana mas kok buru-buru? Ada kuliah lagi?"
"Enggak, aku ada jadwal part time duluan ya."
"Ohh.. yaudah ati-ati mas, sampai ketemu di GSP pakai toga ya mas."
Jarak dari kampus gue ke kedai tempat gue part time sebenernya ga terlalu jauh kira-kira sekitar enam menit pake motor. Alamat tempat kerja part time gue ada di Nikkou Ramen Jalan AM. Sangaji. Sampai di kedai gue ganti baju pake yukata dan berubah menjadi waiter. Gue kerja mulai dari jam sembilan pagi sampai hmm biasanya sih jam lima atau enam sore selesai. 

Kalo lagi ga ada pelanggan ya gini, foto-foto dulu biar punya kenang-kenangan :P
(sorry kualitas fotonya kurang bagus masih pake henpon jadul)

Biasanya gue cuma ambil jadwal part time Hari Selasa, Sabtu dan Minggu Hari Senin free trus Hari Rabu, Kamis, Jumatnya kuliah. Tapi kadang  gue juga ngambil jadwal Hari Kamis kalo misal lagi bokek, duit kiriman abis atau mau beli komponen elektronik buat mainan di kost tapi ga ada duit biasanya gue bolos kuliah Hari Kamisnya. Yah begitulah suka dukanya jadi mahasiswa perantauan ada bermacam-macam bentuknya terkadang harus cari jalan keluar untuk bisa bertahan hidup di kota orang yang jauh dari keluarga, ada yang cuma fokus sama kuliahnya ngejar IPK, ada yang sibuk dengan komunitas atau organisasi di kampus, ada yang sekedar hura-hura ga mikir apa-apa, dan lain-lain. Kamu mahasiswa? Mau menjadi mahasiswa yang seperti apa itu pilihan yang bebas kamu tentukan tapi semua pilihan pasti ada konsekuensinya. Pernah suatu hari gue ditegur salah satu temen gue gini.

"Heh Wan kowe ki kuliah kok ora melu organisasi po panitia opo kek ben ono kegiatan liyane."
(Heh Wan kamu tuh kuliah kok ga ikut organisasi atau panitia apa gitu kek biar ada kegiatan lainnya.)
"Halah dadi panitia entuk opo? paling nasi kotak ro sertifikat, mending aku ngisi part time entuk duit."
(Halah jadi panitia dapet apa? paling nasi kotak sama sertifikat, mending aku ngisi part time dapet uang.) gitu jawab gue. 

Tapi jangan ngikutin jawaban gue ya, itu contoh jawaban yang ngasal. Ikut organisasi itu penting, kamu bisa tambah teman baru, tambah wawasan, tambah ilmu, asal jangan tambah bego atau gila aja. Bisa bersosialisasi juga, banyak banget yang bisa kamu dapetin ketika kamu bisa berinteraksi dengan orang banyak. Waktu kuliah gue ikut beberapa organisasi tapi emang ga banyak dan itu diluar kampus cuma semacam komunitas bukan organisasi dari kampus gue sendiri selain itu gue juga lebih suka ikut seminar-seminar di kampus lain sekedar iseng aja soalnya boring kuliah di kampus sendiri. Gue ngisi part time dan ikut seminar di kampus lain karna gue sadar kekurangan gue sebagai seorang introvert yang anti-sosial karna itu gue berusaha agar bisa berinteraksi dengan orang lain, kalo orang jawa bilang namanya srawung, gitu. Biasanya pulang dari tempat kerja part time gue nongkrong dulu, minum kopi atau main billiard atau langsung pulang ke kost dan tidur. Tapi hari itu gue udah janji mau jemput Fira di kampusnya, katanya sih lagi ikut UKM(Unit Kegiatan Mahasiswa) di kampusnya. Sampai di depan kampus gue sms Fira.

"Nyonyah di sebelah mana?"
"Di GSP sebelah barat." bales fira lewat sms.
"Lohh ga jadi di kampus nyah? Yaudah saya ke situ."
"Enggak, maap lupa ngasih tau hehee."

Empat menit kemudian gue sampai di sayap barat GSP(Grha Sabha Pramana), gue menepi mematikan mesin motor dan mengedarkan pandangan gue di sekitar area GSP untuk menemukan Fira. Gue coba putar kepala gue dari kiri ke kanan menyisir setiap orang yang ada di GSP tapi masih belum gue temukan sosok Fira  yang gue kenal gue puter balik lagi pandangan gue dari kanan ke kiri berkali-kali sampai akhirnya gue putus asa dan takut leher gue patah karna gue puter bolak-balik berkali-kali. Tiba-tiba ada suara dari belakang.

"Mas..mas... nyariin siapa ya?"
"Duhh, dicariin dari tadi malah nongol dari belakang ke mana aja sih?"
"Itu aku duduk di bawah pohon sana itu loh."
"Kamu duduk di bawah pohon? Kok malah kaya ulet sih nempel-nempel di pohon."
"Hiihh..!!" bentak Fira sambil memukul bahu gue.
"Duh.. sakit Fir, yaudah yuk pulang."
"Kok pulang, aku laper belum makan ntar kalo aku kurus gimana?"
"Kamu kurus? Kayanya ga mungkin deh, yaudah mau makan dimana?"
"Cari penyetan aja yang penting makan deh."
"Baiklah, Sholat dulu ya mampir maskam(masjid kampus) udah maghrib nih."
"Oke."

Dari GSP kami ambil jalan memutar lewat belakang gedung GSP yang waktu itu sedang ada pembangunan gedung perpustakaan yang baru yang saat ini menjadi Perpus Pusat UGM. Lokasi maskam sendiri cukup dekat berada di sebelah timur tidak jauh dari gedung GSP.

"Aku tunggu di serambi depan aja ya."
"Lohh kamu lagi enggak?"
"Iya aku lagi dapet."
"Yaudah jangan main jauh-jauh ntar ilang."
"Brisik..!"

Setelah ambil air wudhu gue masuk maskam yang desainnya sendiri cukup unik seperti bentuk rumah joglo tanpa dinding di samping kanan dan kirinya, memiliki dua lantai dengan bagian atap berbentuk seperti limas yang meruncing ke atas. Di halaman depannya ada kolam berbentuk persegi panjang kemudian di depannya lagi ada semacam gapura dan tangga menurun menuju halaman parkir depan dan kalo dijabarkan setiap sudut area maskam akan jadi cukup panjang kalo gue tulis. 


MASKAM UGM
Kalo dilihat dari google map bentuk Maskam UGM kaya gini bentuknya.


Setelah gue selesai sholat gue samperin Fira dan kami mencari tempat makan yang berada di area sekitar kampus UGM, tempat makan dengan atap tenda di pinggir jalan dekat fakultas kehutanan. Gue duduk berdampingan di samping kanan fira di bangku panjang dan berhadapan dengan meja yang juga memanjang. Sebenernya gue lebih suka duduk saling berhadapan dengan Fira dari pada duduk berdampingan tapi karna di sisi bangku yang lain atau dihadapan gue sudah ada orang yang nempatin terpakasa gue duduk di tempat yang masih tersedia di sebelah Fira. Menurut gue aja sih lebih nyaman duduk berhadapan dari pada duduk berdampingan atau sebelahan, kenapa? Nih gue kasih tau. Kalo kamu punya pacar cowok karakternya bisa dilihat dari cara dia duduknya misal gini, kalo dia selalu duduk disebelah kamu tepat di samping kanan atau kiri berarti dia tipe cowok yang ga terlalu banyak bicara lebih banyak actionnya dan biasanya cowok yang kaya gini susah diajak ngobrol kan ga enak ngobrol tapi ga bisa saling menatap mata lawan bicara. Kebalikan dari itu kalo kamu ketemu cowok yang lebih memilih duduk berhadapan dengan tempat dudukmu biasanya cowok yang seperti ini tipe orang yang ingin mencoba berinteraksi lebih dengan kamu, lebih mudah diajak ngobrol dan bisa jadi seorang pendengar dan adegan-adegan romantis yang di film-film kaya CLD(Candle Light Dinner) juga pasti duduknya berhadapan gada CLD tapi duduknya nyamping. Coba kalo dibandingin ngobrol sama orang yang ada di samping kamu pasti susah kan bisa sakit lehernya karna kepalanya musti noleh ke samping. Jadi kalo mau duduk berdampingnya nanti aja kalo udah di pelaminan. Nah kalo kamu ketemu cowok yang duduknya membelakangi kamu dan dia mmemilih posisi duduk berhadapan dengan cewek lain mungkin dia memang pacar orang.

“Taraa.. aku punya tablet baru lohh..” Tiba-tiba Fira mengeluarkan tablet dari tasnya dan ngasih tau gue kalo dia punya tablet baru dengan nada pamer.
"Dasar tukang pamer."
"Biarin weekk" ucapnya ketus kemudian memalingkan mukanya dari gue, menatap tablet dan mengaktifkan kamera depannya sambil berkaca memandangi wajahnya sendiri di layar tablet, menggerak-gerakan bibirnya ke atas bawah ke samping mirip orang gila dan gue cuma bisa ngliatin tingkahnya yang aneh itu.
"Apa liat-liat?! Ngiri?! Makanya beli."Ucapnya kembali, mungkin dia risih karna gue liatin.
"Enggak-enggak Fir, kok kamu galak banget sih kaya godzila lagi PMS."
"Ehh.. ini bisa buat main game juga loh, nih lihat ya." Sambil menunjukan gamenya ke gue.
"Kamu main game apa? coba liat." Gue nanya dan berusaha mendapatkan perhatiannya.
"Nih aku udah sampe level tujuh belas kurang tiga lagi sampe level dua puluh, coba kamu bisa ga?"
"Halah gampang sini pinjem kalo aku yang main bisa lebih dari level dua puluh." Jawab gue enteng aja padahal gue ga bisa dan ga tau cara mainnya.
"Gaya banget, sampe level delapan belas dulu coba."
"Nih liat ya." kata gue dengan pede sekali lagi walaupun gue sebenernya bener-bener ga ngerti tentang game yang dimainin Fira.
"Hehh!.. kok mainnya gitu?! Bukan kaya gitu cara mainnya, ihh kamu gimana sih! sinih!" bentak Fira sambil merebut tabletnya dari tangan gue
"Lohh salah ya, trus gimana cara mainnya?"
"Katanya bisa main, gimana sih? Nih ak kasih tahu caranya!" jawab Fira sambil mendemonstrasikan cara bermain game di tabletnya. 

Dan gue memperhatikan setiap gerakan tangannya dan setiap ucapan dari mulutnya yang ga berhenti ngomel buat ngasih tau gue cara memainkan gamenya dan gue cuma bisa meresponnya dengan kata "iya" di setiap akhir kalimat yang Fira ucapin. Sebenernya gue ga peduli tentang gamenya, gue sengaja ngasal main game ga peduli menang atau kalah dari permainan game yang ada di tabletnya gue cuma pengen Fira ngajak gue ngobrol. Gue lebih memilih diomelin dia terus-terusan dari pada didiemin dan dia sibuk dengan gadgetnya sendiri. Seenggaknya gue merasa masih dianggap ada sebagai manusia bukan seperti patung yang didiamkan dan dia sibuk sendiri dengan mainannya, mungkin waktu itu Fira ga sadar kalo gue sengaja main gamenya ngasal sebenernya gue pengen dia tau kalo setiap apa yang gue lakuin ada alesannya dan kali ini alesan kenapa gue minjem tabletnya dan mencoba memainkan gamenya dengan asal-asalan karna gue berusaha mendapatkan perhatiannya. Setelah beberapa saat berdebat tentang game pesanan makanan kami datang.

"Hmm.. Gitu caranya, ehh.. Itu pesenan kamu udah dateng tuh Fir." kata gue mencoba mengalihkan perhatian Fira ke penjual makanan yang mengantarkan pesanan kami.
"Ehh iya udah laper banget ini." Kata Fira sambil memandang pesanannya yang baru datang. Seketika itu juga gue langsung masuk ke seting tablet mencari aplikasi game yang terinstal kemudian gue tap dan uninstal tanpa sepengetahuan Fira.

"Ini tabletnya aku taruh di tasmu ya."
"Iya, yaudah makan dulu aja."

Dan akhirnya kami berdua makan tanpa ada gangguan dari gadget karna selain gue unistal aplikasi gamenya gue juga matiin data servicenya jadi ga bakal ada notifikasi yang masuk ke tabletnya. Ngobrol, bercanda sambil makan dan kadang mengganggu pelangan yang lain karena Fira mulutnya ga dilengkapi peredam suara jadi kalo dia ngomong kengceng banget dan ga bisa dikecilin volumenya. Setelah lama kami makan sambil ngobrol gue antar Fira ke kostnya dan gue pulang ke kost gue yang ga pernah rapi kecuali kalo orang tua gue dateng ke kosan nengokin gue. Sampai di kosan gue ganti baju dan beresin kertas-kertas laporan praktikum yang belum selesai gue kerjain cuma gue tumpuk jadi satu kemudian gue tiduran sambil dengerin musik dan berpikir untuk menyiapkan jawaban apa yang bakal gue jelasin ke Fira ketika dia sudah sadar kalo game di tabletnya gue uninstal yang jelas gue pasti bakal kena marah.




cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita mungkin yang nulis emang sengaja.







Friday, 9 September 2016

Diandra Nafira (Sarapan II)

Awal kami kenal, di koridor kampus gue panggil dia yang lagi jalan bersama teman-temannya.

"Di.."
"Namaku bukan Didi!."
"Yaudah Ndra.."
"Kamu pikir namaku Indra, kamu harus panggil namaku lengkap!"

Dia yang selalu ingin dipanggil nama depannya utuh satu kata, Diandra.

"Wan aku nginep di kostnya Nita, bisa jemput ga?"
Satu pesan sms masuk di handphone gue pagi itu. Dan dengan kondisi setengah mengantuk gue bales sms Fira dengan telpon sambil merem karna kondisi jari ibu gue sangat ga memungkinkan buat ngetik sms ditambah mata gue yang ga tahan menatap pancaran sinar yang menyilaukan dari layar handphone.

"Fir.." Panggil gue ditelpon
"Iya.. Halloo.." Jawab Fira
"Ga usah sok seksi suaranya."
"Hahaa.. Emang suaraku seksi kok. Kamu udah bangun belum? aku ga ada yang jemput nih."
"Iya udah bangun dikit, kenapa ga minta anterin Nita aja?"
"Hihh Nita jam segini mana bisa bangun, bisa jemput ga? Aku hari ini ada kuliah pagi nih."
"Bisa, tujuh menit lagi ya aku manasin motor dulu."
"Okey.. Udah nih ditutup ya?"
"Yaelah pake nanya, tutup lah mahal pulsanya nyonyah."
"Yaampun Wawan ganteng kok galak banget sih kalo baru bangun bobok cup..cup..cup.."
"Hihh.. Ga usah godain gue."
"Hahaa.. Yaudah aku tunggu ya, assalamualaikum."
"Walaikumssalam.. Tutt.."

Tujuh menit kemudian.
"Gue udah sampe depan Non." Sms gue ke Fira.
"Baik, saya segera keluar Tuan."

Balasan sms dari Fira dan ga lama Fira keluar dari pintu pagar yang dia tarik pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara dari gesekan engsel yang sedikit berkarat tapi tetep aja bunyi.

"Ngiikk.." Bunyi engsel
"Taraa.." Ucap Fira menghadap ke gue sambil tersenyum dan gue dihadapkan dengan pemandangan yang terlalu indah di pagi hari. Fira keluar dari kost dengan kaos dan hotpants atau celana gemes atau apa lah yang berwarna putih yang dihiasi  semacam tali dibagian pinggang dan sangat pendek. Gue sebagai cowok ngliat penampilan Fira langsung kemana-mana pikiran gue dan seketika langsung melek mata gue. Sebagai cowok gue suka liat cewek yang berpenampilan minimalis tapi sebagai orang terdekatnya gue ga berharap dia berpenampilan kaya gitu di luar rumah atau kost and i feel like i need to protect her, because she meant to me.

"Ehh Wan beli bubur ayam dulu yuk, aku laper." Kata Fira
"Okey, let's go." Jawab gue tanpa pikir panjang karna gue ga mau berlama-lama didepan kost Nita bareng cewek yang tampilannya seksi dan diliatin banyak orang dari tetangga kostnya Nita. Sebenernya gue pengen bilang Fira biar pake baju yang lebih tertutup tapi kayanya kurang tepat kalo gue langsung negur dia, gue ga mau kalo dia nantinya malah ngerasa tersinggung karna ucapan gue lagian ini diliatin orang di jalan dan gue ga mau bikin Fira malu.
"Heh.. Buruan berangkat malah ngelamun." Bentak Fira yang udah nangkring di boncengan motor gue.
"Ohh iya, baik nyonyah." Jawab gue sedikit kaget.
Ga jauh dari kost Nita ada penjual bubur ayam, ga lama kami berdua sampai di tempat penjual bubur ayam dan memesan dua porsi bubur ayam.
"Kamu cari tempat duduk dulu aku pesenin buburnya." Kata gue ke Fira.

"Mas bubur ayam dua yang satu ga pake daun seledri."
"Minumnya apa mas?"
"Teh anget dua mas." Kata gue pesen ke mas-mas penjual bubur ayam kemudian berjalan menuju ke meja yang sudah ditempati Fira.

"Heh.. Kok kamu pesen minumnya teh anget dua sih?" Tanya Fira.
"Yaelah gapapa sih cuma masalah minum doang ga bikin IPKmu turun kan?"
"Ga ada hubungannya sama IPK Wawaannn."
"Lahh trus kenapa?"
"Ya kalo minumnya teh anget kan jadi kaya orang tua kaya kamu."
"Hihh rewel, kaya kamu masih muda aja. Nihh pake jaketku biar ga dingin." Kata gue sambil melepas jaket sweater yang gue pake.
"Wawan pagi ini tuh cuacanya cerah dan sudah mulai sedikit panas kenapa kamu malah ngasih aku jaket sih." Jawab Fira sambil melipat setengah bagian jaket gue kemudian dia taruh dipangkuan diatas pahanya dan sebenernya emang itu tujuan gue karna gue ga mau ada cowok lain nglirik Fira dengan tatapan kotor.
"Ohh iya udah mulai panas ya, yaudah pegangin dulu aja deh jaketku." Jawab gue sekenanya.
"Hihh.. Dasar.." Jawab Fira sambil mengerutkan dahinya, tampaknya dia tau kalo gue cuma basa-basi soal jaketnya.
"Kamu ntar kuliah jam brapa Fir?"
"Masih lama sih ntar jam 9, abis ini pulang dulu ambil laundry, mandi, fotocopy laporan sama ngeprint tugas baru ke kampus deh."
"Yaelah kirain kuliahnya pagi banget jam 7an gitu."
"Hihh jam 9 juga masih pagi Wan, kalo aku ga minta tolong kamu trus siapa yang jemput sama yang nemenin aku sarapan."
"Oke baik nyonyah."

Setelah sarapan bubur ayam sambil ngobrol kesana-kemari kemudian gue berdiri dan bayar makannya dan Fira ngikutin gue dari belakang.

"Nih Wan jaketnya."
"Pegangin dulu aja Fir, aku mau bayarin dulu."
"Okedeh..." Jawabnya singkat karna mungkin sedikit keberatan mendapat titipan jaket dari gue, kemudian dia ikatkan jaket gue ke pinggangnya dan tampak seperti mengenakan rok karna jaket gue kebesaran. Setidaknya itulah yang gue harapkan biar dia terlihat lebih sopan.

"Udah yuk pulang." Ajak gue ke Fira.
"Let's go."

Setelah gue sampai di depan kost Fira kemudian Fira turun dari motor gue dan melepas jaket gue yang ada di pinggangnya.

"Nih Wan jaketnya, makasih yaa."
"Iya, ehh.. Fir.." Panggil gue.
"Iya kenapa Wan?"

Kemudian gue terdiam, suasana sesaat hening. Ada kalimat-kalimat yang ragu buat gue keluarin dan perasaan takut menyinggung membuat suara gue terbata.

"Emm.. Itu.. Fir.. lain kali kalo keluar pake bawahannya yang panjang dikit yaa." Kata gue mencoba men-suggest Fira.

"Iya Wan, aku tau kok. Makasih yaa." Jawab Fira santai sambil tersenyum lebar, senyum yang jarang banget gue liat karna gue lebih sering melihat Fira dalam keadaan tertawa. Senyumnya seolah menyimpan isyarat entah apa artinya, mungkin dalam hatinya Fira sedang mengucapkan sesuatu yang gue ga bisa denger. Tapi gue lega bisa menyampaikan apa yang ingin gue sampaikan. Karna tadinya gue takut itu bakal bikin Fira ngrasa tersinggung atau malu dan rasanya ga pantes kalo misalnya gue bikin Fira malu di jalan, di tempat makan atau di tempat yang banyak kerumunan orang gue ga mau bikin moodnya jadi rusak. Tapi sepertinya sekarang Fira ngerti apa yang gue maksud. Oke, ditulisan gue kali ini ada sedikit pesan moral yang pengen gue sampein disini, eciee pesan moral. Jadi gini gaes sebisa mungkin jangan pernah menegur, menasihati atau bahkan membentak perempuan dimuka umum atau didepan orang banyak karna itu bisa membuat mereka(perempuan) malu karna dilihat banyak orang atau malah tersinggung, kan kasian. Coba ajak berbicara empat mata dengan nada yang nyaman didengar dengan itu mungkin pesan kamu atau nasihat kamu akan lebih didengar, sekian.