Monday, 17 August 2020

TWS Bluetooth Headset Murah dari Shopee

 Halo teman-teman, terkakhir aku posting di blog ini Bulan Juli lalu. Sudah hampir satu bulan aku gak posting di blog. Memang untuk menjadi konsisten itu tidak mudah dalam segala hal. Mau itu menulis, olahraga, membaca, belajar dan apapun itu. Untuk bisa menjadi konsisten memang harus dipaksa di awal. Dan biasanya di awal itu bingung apa dulu yang harus dilakukan, kalo nulis biasanya gak tau materi apa yang mau ditulis.

Nah, kebetulan belum lama ini aku abis beli Bluetooth Headset dari Shopee yang harganya bisa dibilang murah banget. Untuk kualitas tentu saja menyesuaikan dengan harganya, tapi masih mending daripada beli headset yang sepuluh ribuan di konter-konter HP.

Aku sering membeli headset dengan permasalahan yang selalu sama yaitu, kebelnya putus. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli headset wireless yang gak pake kabel biar gak putus lagi kabelnya. Sebelum membeli aku coba cari lewat Google dari hasil pencariannya dapat di salah satu toko di Shopee. 

Yang aku dapatkan adalah Headset Wireless TWS Bluetooth 3D Stereo Binaural Call Ipx7 Waterproof CVC8.0. Cukup panjang dan gak ada merknya memang, intinya TWS Bluetooth aja. Kalo ada yang belum tau TWS itu singkatan dari True Wireless Stereo yang merupakan perangkat nirkabel yang biasanya terhubung dengan handphone.

TWS yang aku beli ini menggunakan Bluetooth 5.0 dengan Automatic Pairing and Binaural call (Two ears are both working when you make the phone call or answer). Nah lho apaan tuh Bahasa Inggris semua. Jadi Automatic Pairing and Binaural call ini akan otomatis melakukan pairing dari sisi kanan maupun kiri dengan handphone yang akan disambungkan dengan headset.

Perangkat TWS ini juga dilengkapi IPX7 life waterproof from light rain and sweat, jadi bisa tahan cipratan air dari hujan atau keringat. Tapi tidak disarankan untuk berenang ya, mengingat harganya yang cukup murah.

Headset ini juga mendukung 3D sound effect, jadi kalo dengerin lagu bisa kaya real tapi ya gak real-real banget sih. Headset ini juga bisa dioperasikan salah satu saja gak harus pairing dua-duanya.

Bisa disambungkan ke perangkat iOS/Android/Microsoft systems(Mobile Phone). Pernah aku coba sambung ke laptop dengan sistem operasi Windows 10 cukup oke tapi waktu aku coba ke laptop yang sistem operasinya Windows 7 selalu gagal. Padahal harusnya bisa juga, mungkin ada kendala di perangkat laptopnya.

 Ada fitur One Button Solution jadi tombol yang ada di perangkat headsetnya bisa mengontrol perangkat handphone yang tersambung. Fungsi-fungsinya antara lain double click pada ear buds kanan untuk play next, double click pada ear buds kiri untuk play previous, satu kali click kanan/kiri untuk play/pause. Bisa juga satu kali click untuk angkat/tutup telepon dan click tahan dua detik untuk mengaktifkan Google Assistant/Siri pada iOS.

 Tapi kekurangannya, karena ini versi tombol jadi agak berisik ketika tombol ditekan jadi sedikit mengganggu ketika sedang memutar musik. Mungkin lebihnyaman untuk yang versi touch, jadi cuma tinggal disentuh aja gak perlu ditekan tombolnya.


Nah, kalo untuk spesifikasi TWS Bluetooth Headset ini adalah sebagai berikut.

♦ Wireless Version :V5.0

♦ Transmission Distance: 10m  (under open distance)

♦ Playing Time: 3-4 hours

♦ Charging Time: 1 hours

♦ Noise Reduction Technology: CVC8.0

♦ Build-in Microphone


Sedangkan kelengkapan pembeliannya sebagai berikut.

2 x Mini Bluetooth Headphone

1 x Charging case

1 x USB Charging Cable

1 x User Manual

4 x Ear Cap

1 x earphone bag as a little gift


Untuk penggunaan pertamanya wajib  di-charge dulu dengan cara dimasukan ke case-nya lalu sambungkan ke USB charging. Selengkapnya bisa cek lewat video youtube di bawah. Nah, kalo untuk pembeliannya bisa lewat Shopee klik di sini.


Sunday, 19 July 2020

Selama ini Cuma Jagain Jodoh Orang Lain?

Orang yang baru saja patah hati karena berpisah dengan pasangannya sering berkata kalau selama ini mereka hanya sedang menjaga jodoh orang lain lalu ditinggal nikah. Saya agak kurang setuju dengan pernyataan ini, mari kita coba urai terlebih dahulu. Kenapa bisa sampai ada istilah "jagain jodoh orang"? Yang pertama muncul di kepalaku adalah, apakah selama menjalin hubungan mereka sudah benar-benar menjaganya dengan baik? Atau justru malah menelantarkan pasangannya?



Jangan-jangan selama mereka menjalin hubungan atau selama kamu menjalin hubungan sebenarnya kamu tidak sedang benar-benar menjaganya. Kamu tidak sedang menjaga jodoh orang, kamu justru sedang menyia-nyiakan atau bahkan kamu sedang mengukirkan luka yang pada akhirnya justru hanya akan menimbulkan bekas trauma. Dan dia yang kamu sia-siakan atau justru kamu sakiti itu sebenarnya memang jodoh orang lain. Sampai akhirnya ada orang yang datang yang benar-benar bisa menjaganya, merawatnya hingga pulih dari trauma yang kamu tinggalkan sebelumnya.

Ada quote seperti ini "We're all villains in someone else's story" yang artinya kurang lebih "Kita adalah orang jahat dalam cerita orang lain". Namun dalam cerita kita sendiri, kita sering memposisikan diri justru sebagai victim. Atau mungkin malah sebagai hero dalam cerita kita sendiri. Wajar sih, sangat manusiawi kalau setiap manusia tidak ingin diposisikan pada keadaan yang salah atau sebagai pelaku yang melakukan kesalahan. Nah, kira-kira pernah gak kita mengakui kesalahan? Atau mengakui bahwa kita juga pernah berbuat jahat kepada orang lain? Kalau belum pernah, jangan-jangan kita termasuk golongan orang yang sok suci dan selalu merasa benar.



Baca juga: Jodoh, Terlalu Pilih-Pilih Nggak Apa-Apa Biar Nggak Salah Pilih

Okay, sekarang mari kita coba untuk introspeksi diri kita sendiri dulu. Apakah selama ini kita selalu merasa paling benar? Apakah kita pernah melakukan kesalahan? Jika iya, akui kesalahan yang pernah kita lakukan sebelumnya. Lalu berdamailah dengan kesalahan kita sendiri, Terimalah bahwa kita juga manusia biasa yang juga bisa salah. Jika memang harus menyesal, maka tidak ada salahnya menyesali kesalahan yang pernah terjadi. Asal tidak terlalu larut dan jangan lupa untuk kembali bangkit dan memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuat sebelumnya. Dan sebisa mungkin jangan sampai kesalahan yang sama terulang di kemudian hari.

Kembali lagi, jadi jika kita pernah memiliki pasangan lalu berpisah dan pada akhirnya dia yang berpisah dengan kita ternyata menikah dengan orang lain, apakah kita masih bisa mengatakan bahwa selama ini kita hanya menjaga jodoh orang lain? Sedangkan kita juga pernah melakukan kesalahan atau berbuat jahat kepada pasangan kita sebelumnya? Setiap dari kita tidak ada yang sempurna, jadi jika hanya karena kita pernah memiliki pasangan tapi akhirnya pasangan yang kita anggap awalnya itu jodoh kita ternyata menikah dengan orang lain. Mungkin memang itulah jalan hidup yang harus kamu lalui. Bukan karena kamu sedang menjaga jodoh orang lain, tapi lebih kepada agar kamu sadar bahwa kamu manusia biasa yang bisa salah.

Kalau pun kenyataanya memang benar, selama menjalin hubungan dan setelah berpisah tetap terjalin silaturahmi yang baik. Lalu selama terjalinnya hubungan tidak ada masalah yang benar-benar serius serta tidak meninggalkan bekas trauma, mungkin selama itu kita memang benar-benar sedang menjaga jodoh orang lain. Lalu apakah kamu akan menyesal atau merasa dirugikan? Jika iya, mungkin kamu harus belajar untuk ikhlas.


Baca juga: Inilah Tanda Bahwa Dia Adalah Jodoh Kamu!

Kamu mungkin akan malu kalau ada teman yang meledek atau menganggap kamu sebagai loser. Karena hanya membuang-buang waktu dengan jodoh orang lain, lalu tidak mendapatkan apa-apa. Jangan berkecil hati, kamu seharusnya tidak perlu malu atau merasa sebagai loser. Kamu bukan loser dan tidak sedang membuang-buang waktu, kamu hanya sedang belajar dari kehidupan untuk menjadi orang baik. Dan itu artinya hidup kamu bermanfaat, seharusnya kamu bangga dengan dirimu sendiri.

Walaupun mungkin memang berat, mungkin banyak tenaga yang terbuang, juga emosi yang terkuras karena selama menjalin hubungan ada masalah yang sampai menimbulkan sedikit emosi, banyak waktu yang sudah kamu lalui yang tak akan mungkin kembali dan banyak lagi hal yang mungkin kamu korbankan. Jika itu semua sudah terjadi, semoga itu bisa menjadi amal baik bagimu dan semoga alam semesta yang baik memberikan balasan yang setimpal dengan kebaikanmu.

Jadi apabila kamu sudah sadar bawah selama ini kamulah yang salah dan sudah jahat kepada jodoh orang lain, segeralah akui kesalahanmu dan perbaiki agar tidak terulang kembali. Tapi apabila memang benar selama ini kamu hanya sedang menjaga jodoh orang lain, jangan berkecil hati karena itu artinya hidupmu berguna bagi orang lain. Dan jika kamu merasa dalam hidupmu masih belum ada perubahan atau kamu merasa semesta ini tidak adil, bersabarlah. Mungkin jika amal baikmu belum mendapatkan balasaan saat ini kamu akan mendapatkan balasannya di kehidupan selanjutnya. Aamiin.

Saturday, 30 November 2019

Inilah Tanda Bahwa Dia Adalah Jodoh Kamu!

sumber: quizlab.it

Posting ini nggak akan panjang karena ada tulisan-tulisan lain yang udah masuk deadline. Aku cuma mau nanggepin tentang suatu artikel yang pernah aku baca di salah satu portal media online. Dari konten artikel yang pernah aku baca itu ada sub-judul yang cukup mengundang click-bait, sub-judulnya kurang lebih seperti ini.

"Salah satu tanda dia jodoh kamu adalah, kamu bisa membayangkan hidup di masa depan bersamanya."

Tapi tunggu dulu, in real life aku coba tanya sama salah satu temen yang menikah dengan teman sendiri yang dimana mereka terlibat cinta lokasi. Percakapannya seperti ini.

Aku: "Bro, lu dulu gimana ceritanya bisa nikahin Mawar(nama samaran tentunya)"
Temen: "Nggak tau juga gue, nggak pernah ngebayangin malah kalo bakal nikanhin dia. Hahaa.."
Aku: "Lahh.."

Agak bertolak belakang bukan?


Ada lagi sub-judul selanjutnya yang menurutku di kehidupan nyata terlalu general, kurang spesifik. Hal ini justru membuat konten itu menjadi kurang reliable dan tidak bisa dijadikan acuan apalagi pedoman bagi yang membacanya. Hanya bermodal judul yang click-bait, orang jadi tertarik, mereka merasa relate tapi mereka tidak sadar bahwa itu semua tidak sepenuhnya benar. Sekarang, mari kita coba ulas dari tema sub-judul diatas. Masih dengan tema "Tanda dia jodoh kamu" aku pernah baca juga yang kalimatnya seperti ini.

"Tanda jika dia jodoh kamu adalah enak diajak ngobrol."

Sering sekali menemukan content writer yang menulis artikel seperti ini, "Tanda dia jodoh adalah enak diajak ngobrol." Yakin? Kalau cuma enak diajak ngobrol sama temen sendiri ngobrol juga enak. Ngobrol sama tetangga, ngobrol sama tukang sayur, ngobrol sama abang ojol juga enak. Walaupun ternyata ada juga yang jodohnya adalah teman sendiri, tetangga sendiri, tukang sayur atau abang ojol kaya di cerita FTV. Tapi kan nggak semua, tidak semua orang yang enak kita ajak ngobrol adalah jodoh kita, iya kan? Harusnya lebih spesifik dong, kalau menurutku bukan cuma enak diajak ngobrol tapi cocok buat diajak ngobrol. Bukankah yang kita semua cari adalah kecocokan bukan hanya sekadar enak-enaknya aja kan? Okey, sekarang balik lagi ke sub-judul yang aku tulis di atas buat intro tadi.

"Salah satu tanda dia jodoh kamu adalah, kamu bisa membayangkan hidup di masa depan bersamanya."


Seperti yang ditulis di awal, ada yang bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi di kehidupan nyata. Pernyataan yang sering ditulis diartikel bahwa tanda dia jodoh kamu adalah kamu bisa membayangkan hidup di masa depan dengan orang yang kamu suka. Tapi jangan pernah lupa bahwa banyak hal-hal yang terjadi tanpa pernah kita bayangkan sebelumnya. Jadi agaknya pernyataan tentang "Tanda dia jodoh kamu adalah, kamu bisa membayangkan hidup di masa depan bersamanya." tidak sepenuhnya benar. Teringat ada sebuah pepatah yang bunyinya kurang lebih seperti ini,

"Membayangkan hidup itu mudah, tapi kenyataan hidup itu tidak semudah yang dibayangkan."

Yang maknanya kurang lebih sama yaitu, apa yang kita bayangkan tentang kehidupan tak selalu sesuai dengan kenyataan yang ada. Terkadang hal-hal yang terjadi dalam hidup kita adalah hal yang di luar dugaan, hal yang tak pernah kita bayangkan. Seperti pengalaman dari salah satu teman yang aku ceritakan di awal, bahkan dia tidak pernah membayangkan akan menikahi temannya sendiri di kehidupannya. Sebenarnya masih banyak konten-konten yang lain yang bukan cuma bertema jodoh tapi juga tentang kehidupan sehari-hari atau pekerjaan yang kenyataannya memang tidak sepenuh benar, kalau menurut kalian gimana?


Sekian, see yaa..












Wednesday, 24 July 2019

Jodoh, Terlalu Pilih-Pilih Nggak Apa-Apa Biar Nggak Salah Pilih


Kadang kalau pas lagi ngobrol sama orang terus ditanya soal jodoh, gini.

"Udah ada belum calonnya?"

Saya hanya bisa menjawab

"Belum, nanti nunggu ada yang mau."

Terus malah disautin lagi

"Loh, si 'itu' dulu bukannya dia suka sama kamu?"


Kamukah jodohku? via https://google.com


Nah, dari sini saya baru mulai bingung menjawabnya. Yha, kira-kira itu opening untuk tulisan yang akan membahas tentang anxiety yang saya rasakan kali ini. Jadi banyak dari beberapa teman saya yang sering membahas tentang jodoh terutama mereka yang sudah menikah, sudah menemukan tambatan hati. Lalu apa saja yang kami bahas? Tentu saja tentang saya yang masih jomblo ini. Entah apa yang salah dengan jomblo? Kaum yang belum menemukan pasangan ini selalu diposisikan sebagai korban sekaligus sebagai pihak yang juga sering disalahkan. Salah satu hal yang sering disalahkan kepada jomblo adalah ketika malam minggu tetapi tiba-tiba cuaca hujan, lalu netizen berkata

"Wah, ini pasti gara-gara doa jomblo nih!"

Kira-kira seperti itulah tuduhan yang diberikan, padahal yang jomblo nggak salah apa-apa lho. Keadaan mereka sebagai jomblo juga sering disalahkan dan dipermasalahkan. Beberapa dari mereka, kaum yang sudah memiliki pasangan mengganggap para  jomblo tidak memiliki pasangan adalah karena salah mereka sendiri. Saya pun beberapa kali sering dianggap seperti itu, tapi tidak semua ya, beberapa. Tetap ada juga orang-orang yang baik yang bisa menyikapinya dengan lebih bijaksana dengan canda dan tawa.

Saya dan mungkin beberapa kaum jomblo yang lainnya sering dianggap terlalu pilih-pilih. Iya, itu anggapan mereka, apakah memang tidak ada yang pernah suka atau setidaknya dekat dengan saya? Jawabannya ya pasti ada, lalu kenapa seolah-olah tidak pernah ada yang dekat dengan template jawaban saya di atas? Yang templatenya seperti ini.

"Belum, nanti nunggu ada yang mau."

Seolah-olah seperti nggak ada yang mau, padahal kalau ada yang mau malah ditolak(SOMBONG AMAT!). Iya..iya.. memang ada yang mau, tapi banyak juga yang mengatakan tidak dan menolak saya juga. Nah, ini juga yang menjadi penyebab saya sering disalahkan. Apanya yang salah? Karena terlalu memilih, percakapan yang biasanya terjadi selanjutnya adalah, seperti ini.

"Yaudah kalo ditolak, cari lagi yang lain. Itu yang kemaren, kenapa nggak sama yang itu aja?"
"Wah, nggak bisa deh kayanya. Nggak ada feeling." Jawab saya
"Udah lah, jalanin aja dulu nanti lama-lama juga suka. Kan kata pepatah jawa 'witing tresno jalaran soko kulino' iya kan? Lama-lama juga cinta karena terbiasa."

Kali ini saya kembali bingung untuk menjawab dan menanggapinya. Memang benar ada pepatah jawa yang mengatakan 'witing tresno jalaran soko kulino' yang artinya kurang lebih cinta datang karena terbiasa. Tapi apakah hal ini berlaku untuk semua pasangan? Saya pikir tidak seperti itu. Ada pasangan yang mungkin awalnya sering melakukan aktivitas atau rutinitas yang selalu melibatkan keduanya sehingga sering terjadi komunikasi diantara mereka yang menimbulkan adanya kecocokan. Dari kecocokan ini kemudian muncul perasaan nyaman, baik nyaman dalam cara berkomunikasi, bekerjasama, atau apapun kegiatan yang mereka sering lakukan bersama. Dalam kasus ini mungkin bisa terjadi datangnya cinta karena terbiasa. Ini yang pertama, pasangan yang saling cinta karena terbiasa. Namun.

Namun tidak semua kisah asmara berjalan mulus dan lancar seperti jalan toll seperti yang pertama tadi ya. Nah ini yang kedua, ada kalanya perjalanan cinta itu seperti konstipasi, mapet, tidak lancar dan menyakitkan. Dari sisi yang berbeda, ada cerita lain tentang kisah asmara yang tidak terlalu manis. Jika ada sepasang manusia yang saling suka karena terbiasa melakukan rutinitas bersama, maka ada juga sepasang manusia yang justru jenuh dan bosan melakukan rutinitas dengan orang yang sama berkali-kali. Hal ini bisa saja terjadi jika ada pasangan yang justru merasa biasa saja saat melakukan rutinitas bersama bahkan merasa bosan hingga timbul berbagai masalah yang membuat hubungan menjadi tidak harmonis. Ketidakharmonisan ini semakin lama bisa menjadi toxic dalam sebuah hubungan yang jika diteruskan akan membuat pasangan tersebut semakin tersiksa, maka tidak heran jika pasangan yang terjebak dalam hubungan ini memilih mengakhiri hubungannya agar tidak timbul masalah yang berlarut-larut.

Dari dua cerita diatas bisa disimpulkan bahwa tidak semua kisah cinta bisa dipukul sama rata. Mungkin memang benar cinta bisa datang karena terbiasa tapi jangan sampai lupa kalau cinta juga bisa hilang jika semuanya sudah terasa biasa (B-aja). Nah, jadi nggak ada urusan tuh cinta datang karena terbiasa atau cinta yang datang tiba-tiba kaya lagunya Maudy Ayunda(Tiba-tiba cinta datang kepadaku ...~ jangan sambil nyanyi!) Karena tidak semua orang bisa disamakan soal experience kisah asmaranya. Jadi tidak ada salahnya jika kita sedikit pilih-pilih dalam urusan jodoh, karena kita memang memilih yang sesuai kriteria yang kita cari bukan asal "jalanin aja dulu" atau "dicoba aja dulu". Apa tidak terdengar aneh kalau ada orang yang sering bilang "dicoba aja dulu"? Lahh, memangnya ini apa? Masakan dicoba dulu? Ini orang bukan masakan. Masa iya dicoba dulu terus kalau nggak enak ditinggal, begitu? Jahat nggak sih?

Jadi kalau menurut saya tidak apa-apa kalau sedikit pilih-pilih dalam menentukan jodoh karena setiap orang pasti memiliki kriteria yang spesifik yang menjadi pilihan mereka. Hanya saja, biasanya yang terucap di mulut adalah kriteria yang secara umum, yang pada dasarnya hampir semua orang memenuhi kriteria tersebut. Misalnya, yang baik, yang bertanggungjawab, yang sholeh/sholehah, yang setia, yang romantis dan lain-lain, intinya adalah kriteria yang baik-baik. Nggak mungkin kan menyebut kriteria yang buruk, nggak ada yang bilang "aku mau cari pasangan yang nggak bertanggungjawab" Nggak ada, nggak akan ada kecuali orang itu gila atau agak kurang normal.

Nah, banyak dari kita yang enggan menyebutkan kriteria pasangan yang kita inginkan karena takut menyinggung perasaan orang lain atau karena takut ketika sudah menemukan orang yang kita pilih tetapi tidak sesuai atau berbeda dengan apa yang sebelumnya pernah diucapkan. Wajar jika mungkin kriteria yang kita harapkan sebelumnya tiba-tiba berubah karena suatu hal dan sangat manusiawi jika kita takut menyebutkan kriteria yang kita harapkan karena takut menyinggung perasaan orang lain, mungkin. Dari sinilah pentingnya memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara asertif, agar kita bisa mengutarakan apa yang kita inginkan, rasakan serta kita pikirkan dengan tetap menghargai hak-hak orang lain dan tanpa perlu menyinggung atau menyakiti perasaan mereka.

Dan yang terpenting, apabila kita sudah bisa mengutarakan apa yang kita rasakan dan kita inginkan secara asertif terkait dengan pasangan yang kita harapkan adalah menemukan atau memilih yang cocok. Karena seselektif apapun kita mencari pilihan yang sesuai dengan kriteria-kriteria yang sering disebutkan, tetap saja yang kita butuhkan bukan sekedar yang baik tapi yang cocok. Bagaimana kalau menurut kalian?

Sunday, 23 June 2019

Adakah Cinta Dibalik Kata "Cie..cie..." ?

Kalian pasti pernah dicie-ciein atau malah jadi pihak yang ngecie-ciein? Please fellas, kalau kalian punya kebiasaan ngecie-ciein temen kalian sendiri mending mulai sekarang dikurang-kurangin deh kalau bisa hentikan. Awalnya mungkin hal ini bisa jadi bahan becanda atau sekedar lucu-lucuan aja, tapi apakah kalian tau dampak dari cie-cie ini kalau sudah menyangkut perasaan. Jika niatnya buat becanda, tapi kalau urusan perasaan gak sebecanda itu my love.





Nah, sekarang apasih yang sebenarnya terjadi atau mungkin terjadi kalau kebiasaan cie-cie ini dibiarkan? Pertama, kita bahas dulu apa penyebab munculnya cie-cie itu? Heteronormatif, heteronormatif ini adalah pandangan masyarakat secara umum bahwa kodrat pasangan adalah laki-laki dan perempuan. Dari sikap heteronormatif inilah, setiap ada adegan dimana seorang laki-laki dan perempuan berinteraksi baik secara sengaja atau tidak disengaja akan melahirkan pihak-pihak yang siap untuk ngecie-ciein. Misalnya yang sering tuh kejadian-kejadian yang biasanya ada di FTV kaya nabrak terus jatuhin buku abis itu ngambil bareng, gitu.

Kalau sudah terlanjur dicie-ciein terus apa lagi yang akan terjadi? Hal yang terjadi ketika perilaku cie-cie itu sudah mulai ramai disuarakan adalah sebagai berikut.

Yang pertama, ketika kamu ada dalam posisi dicie-ciein lalu kamu diam saja atau secara tidak langsung kamu seolah meng-iya-kan tanpa adanya penolakan. Sikap seperti ini sangat berpotensi timbulnya perasaan yang dibawa ke dalam candaan. Kalau udah kaya gini biasanya malah jadi keterusan. Nah, kalau dua-duanya bawa perasan sih gak masalah, syukur-syukur bisa lanjut dari candaan sampai jadi pasangan beneran. 

Tapi, Kalau ternyata yang bawa perasaan hanya ada di salah satu pihak saja lalu apa yang terjadi? Yha gak perlu ditanyain lagi apa yang terjadi kan, udah pasti bakal terjadi cinta bertepuk sebelah tangan. Kalau udah kaya gini, potensi hancurnya hubungan pertemanan akan meningkat lho. Biasanya diawali dengan perasaan canggung, tidak merasa nyaman, berusaha untuk selalu menghindar bahkan bisa jadi timbul perasaan insecure dan takut akan terjadi experience yang sama di kemudian hari. 
 
Yang kedua, kalau misal kamu menolak, refuse atau membantahnya dan menganggap seolah tidak ada apa-apa antara kamu dengan si-doi yang dicie-ciein atau dipasangkan dengan kamu, hal ini kemungkinan bisa menyinggung perasaannya. Penjelasannya seperti ini, kamu dipasangkan dengan seseorang sedangkan kamu sebenarnya tidak ada perasaan apa-apa dengan orang tersebut. 

Tapi, pernahkah terpikir ketika kamu dipasangkan dengan orang lain, lalu kamu menolaknya, itu bisa melukai perasaan orang yang dipasangkan dengan kamu. Karena hal itu bisa membuat si-doi jadi merasa tidak pantas untuk menjadi pasangan atau tidak pantas menjadi orang yang dikasihi padahal pada dasarnya semua orang berhak merasakan cinta dan kasih dari sesamanya, bukan begitu? Yha walaupun orang yang seharusnya mengasihi atau mencintai si-doi itu bukan kamu, tapi jika sudah diposisi seperti ini pasti kamu akan binggung bagaimana harus bersikap sekaligus untuk menjaga perasaan, iya kan?

Nah, itulah sekedar opini dari saya yang umumnya sering saya alami terjadi. Tapi perilaku seperti ini mungkin bisa berbeda dari tiap-tiap orang. Setiap orang mungkin memiliki cara berinterasi dan berkomunikasi yang berbeda-beda, jadi kemungkinan selain opini diatas yang saya sebutkan ada lagi bermacam-macam respon yang diakibatkan dari perilaku "ngecie-ciein"

Ada juga yang biasanya bilang atau nyautin gini

"Udah diamiin'in aja, kan kata-kata adalah doa."

Iya memang benar sih kata-kata adalah doa, tapi malaikat juga tau mana yang serius mana yang bercanda, Bambank.

Terkadang orang hanya melihat dari satu sisi saja. Memang benar kata-kata adalah doa, tapi mereka mungkin lupa kalau setiap amal perbuatan manusia itu tergantung dari niatnya, bukan begitu?
Mungkin itu saja dulu yang bisa saya tulis, mohon maaf kalau ada yang salah dan mohon koreksinya atau mungkin kalian punya pengalaman atau opini yang berbeda. Bagaimana menurut kalian?


Sunday, 14 April 2019

Story About Diandra 04

Cerita ini terjadi disaat saya sedang menghadapi masalah, atau lebih tepatnya 'kami' sedang dihadapkan pada masalah. Setiap orang yang menjalin relationship pasti pernah dihadapkan pada masalah, entah itu masalah besar atu kecil. Katanya sih begitu, tapi ya nggak tau kalau misalnya ada yang relationshipnya lempeng-lempeng aja dan lancar kayak jalan toll. Saya sendiri yang sudah lupa tentang masalah yang dulu kami hadapi saat itu lebih memilih untuk menenangkan diri terlebih dahulu dengan cara hang-out dengan teman-teman saya.
Dulu saya pernah membuat kesepakatan dengan Diandra jika kami sedang ada masalah maka, kami akan menghentikan komunikasi untuk beberapa hari agar bisa saling menenangkan diri. Dengan begitu, harapannya setelah pikiran tenang lalu kami bisa menyelesaikan masalah dan mendapatkan solusi yang terbaik. Di hari itu saya memutuskan untuk hang-out dengan teman saya pada malam harinya. Teman saya mengajak saya untuk berkumpul di angkringan Tugu Yogyakarta.

Karena saya tidak ada kegiatan, saya datang sesuai dengan jam yang sudah disepakati dengan teman-teman. Dan setelah sampai di TKP saya langsung pesan kopi susu lalu duduk lesehan bersama beberapa teman yang sudah datang. Saat sudah duduk saya mengeluarkan HP dari saku celana untuk mencoba menghubungi teman-teman yang lainnya. Waktu saya buka notifikasi di HP, ada pesan LINE dari teman yang bilang kalo dia sedang OTW. Setelah saya balas pesan chatnya, saya tidak sengaja swipe dari history chat LINE ke status atau Timeline dan saya melihat Diandra update status Timeline dengan stiker yang menggambarkan dia sedang sedih. Dan saat itu juga tiba-tiba saya merasa gagal sebagai orang terdekatnya.

Lalu ada hal membuat saya merasa sesak di dada waktu itu adalah komentar yang ada di statusnya, beberapa ada komen dari cowok dan beberapa lagi ada komen dari teman-teman ceweknya. Kalau komentar dari cowok sudah bisa langsung ditebak kalau ini cowok mau cari kesempatan terus sok ngasih perhatian lewat komen. Nah, kalau dari teman cewek ini yang lebih membuat saya khawatir, kenapa? Karena kalimat-kalimat yang keluar dari mulut cewek atau dari ketikan jempol cewek itu akan lebih sugestif dan provokatif.

Nggak tau ini mitos atau fakta, atau hanya spekulasi saya saja. Tapi menurut saya memang kalimat-kalimat yang keluar dari cewek ke sesamanya cenderung bersifat sugestif dimana kalian(sebagai cewek) mau nggak mau pasti akan mengikuti atau larut pada suara yang terbanyak.


Menurut saya ada semacam peraturan dimana ketika kalian(sebagai cewek) tidak mengikuti perkataan dari teman kalian sendiri yang sesama cewek maka kalian akan dianggap tidak setiakawan atau akan dianggap bodoh dalam lingkungan sosial pertemanan atau yang lainnya. Tapi mungkin itu hanya ketakutan saya yang terlalu berlebihan atau gimana saya sendiri juga kurang paham, mungkin juga tidak semua seperti itu.

Dan pada saat itu juga saya langsung telpon Diandra.

"Halo, lagi di kost nggak?"

"Iya, aku lagi di kost."

"Temenin aku makan bentar yuk, kamu pasti belum makan kan?"

"Iya, belum."

"Yaudah, aku jemput sekarang ya?"

"...." Tiba-tiba Diandra diam tak bersuara dan saya hanya bisa mendengar suara kipas angin yang ada di dalam kamar Diandra.

"Hey, haloo.. Aku jemput kamu ya?"

"Iyaaa.. Kan barusan aku udah ngangguk."

Mendengar jawaban itu, saya langsung mute HP saya dan berkata "Hey anda! Ini telpon biasa bukan video call, saya mana tau kalau anda mengangguk!! Woy!!" Ucap saya agak kesal tapi masih berusaha sabar karena saya masih berniat untuk memperbaiki komunikasi says dengan Diandra. Lalu saya unmute lagi HPnya.

"Yaudah aku jemput sekarang, nanti kalo udah deket kost aku kabarin lagi."

"Iyaa."

Setelah itu saya langsung bayar kopi susu yang sudah saya pesan tapi belum sempat saya minum dan ijin pamit dari teman-teman saya.

"Ehh.. Ini kopinya belum gue minum, ntar minum aja. Sorry bro kayanya gue skip dulu hari ini."

"Lahh.. Mau kemana Wan?"

"Duhh.. Ada urusan bentar, mau jemput nyonyah. Gue duluan ya."

"Okey deh, besok ketemu lagi ya."

"Siyapp." Jawab saya dan langsung bergegas jemput Diandra.

Di tengah perjalanan mendekati kost Diandra saya kirim pesan WA

"Aku udah di lampu merah deket kost kamu, bentar lagi nyampe."

Setelah sampai di depan pintu gerbang, ternyata Diandra sudah berdiri menunggu disana.

"Kamu udah lama nunggunya?" Tanya basa-basi.

"Belum." Jawab Diandra singkat. Mungkin dia masih merasa ada sisa-sisa dari pertengkaran kami sebelumnya dan saya pun masih merasa bersalah, terlepas dari permasalahan apa yang kami hadapi waktu itu yang saya sendiri sudah lupa. Tapi saya merasa kalau saya memiliki tanggungjawab untuk menyelesaikannya dan untuk tidak membiarkannya berlarut-larut.

Saya mengajak Diandra makan di tempat makan yang tidak terlalu ramai dan memilih meja yang agak terpisah dengan pengunjung lain. Sebelum saya memulai obrolan, saya dan Diandra pesan makanan sambil ngobrol basa-basi karena suasananya masih sedikit kaku. Setelah selesai makan sampai hanya tinggal dessert, saya mencoba membuka obrolan yang sedikit serius dan mencoba menjelaskan apa yang saya rasakan.

"Di, aku minta maaf. Terlepas dari masalah apa pun yang sedang kita alami dari kemarin. Aku merasa aku salah kalau harus membiarkan kamu sendiri dengan masalah yang sedang kita hadapi. Aku mau tarik lagi peraturan kita soal me-time selama tiga hari. Mulai sekarang kalau ada masalah apa pun itu, aku maunya kita tetap ngobrol dan aku nggak apa-apa kalau pun kamu mau emosi atau marah-marah."

"Kamu yakin? Nanti kalau kita malah jadi saling lempar kesalahan gimana?"

"Okey, gini deh biar nggak pake acara marah-marah atau saling lempar kesalahan gini aja." Jawab saya sambil membuka tas lalu mengeluarkan buku note lalu menyobek dua lembar kertas.

"Ini buat apa?" Tanya Diandra.

"Aku bakal tulis semua hal yang menurutku salah dan kesalahan itu dari aku sendiri, terus aku juga bakal nulis apa aja hal yang menurutku kurang tepat dari kamu. Dan kamu juga sama nulis itu buat aku, abis kita nulis itu semua terus kita tuker kertasnya dan dibaca pas kita udah pulang nanti."

"Terus abis itu gimana? Udah masalahnya kelar?"

"Tentu tidak selesai semudah itu nona cantik. Aku sadar kalau masing-masing dari kita punya ego dan masih nggak bisa terima gitu aja kalau aku bilang kamu yang salah atau sebaliknya, tapi paling nggak dengan kita nulis ini harapanku bisa sedikit melegakan atau sekedar meringankan. Kalau pun nanti dari tulisan ini ada yang masih salah dari aku atau kamu dan perlu direvisi lagi juga nggak apa-apa." Kata saya, berusaha menenangkan.

"Yaudah, aku tulis nih. Tapi kamu jangan marah ya kalau aku nulisnya jujur soal apa aja yang menurut aku salah di kamu?"

"Iya aku nggak marah, kan aku juga yang bikin ide ini."

Kemudian kami mulai menulis semua hal yang mengganjal menurut kami, lalu kami saling menukar kertas itu. Tapi saat saya menerima kertas dari Diandra tentang koreksi untuk saya ternyata cukup banyak, satu lembar full bolak-balik.

"Kok ini yang koreksi buat aku banyak banget ya?" Tanya saya.
"Kenapa? Nggak terima? Nggak usah protes deh, tadi katanya nggak apa-apa kalau aku nulisnya jujur."

"Okey baik lah, tapi ini kenapa ada pernyataan kalau 'Wawan harus selalu kalah kalau suit, main poker, uno dan lainnya' kok bisa gitu?"

"Ya emang harus gitu, pokoknya aku nggak mau kalau kamu menang. Kalau taruhan juga pokoknya aku yang harus menang!" Jawab Diandra ngotot, tapi kali ini suasana hatinya sudah mulai cair. Terdengar dari nada yang Diandra keluarkan sudah mulai berbeda dari sebelumnya. Semakin mengenal dia semakin saya tahu warna suaranya waktu dia sedih, marah, nggak mood dan waktu dia seneng.

"Hahaa... iya-iya deh boleh, pokoknya kamu yang akan selalu menang."

"Wan, aku kangen kamu." Ucap Diandra secara tiba-tiba dan itu membuat saya bingung harus bereaksi seperti apa.

"Besok kita main ke pantai yuk." Akhirnya saya putuskan untuk mengajaknya main ke pantai.
"Ehh.. sorry, lupa aku besok kan masih masuk kerja deh."

"Ihh.. Nggak mau, pokoknya kamu harus bolos nggak usah kerja."

"Lahh, nanti aku kena SP gimana dong. Trus gaji ku dipotong, sore aja abis aku pulang kerja langsung aku jemput ya."

"Kalau sore nanti mainnya cuma bentar, aku maunya dari pagi." Ucap Diandra tetap memaksa dan keluar sifat manjanya yang ingin segalanya dituruti tanpa peduli apa pun.

"Yaudah..yaudah.. Sekarang ikut aku aja yuk."

"Mau kemana?"

"Udah ikut aja, aku bayarin makanannya dulu ya."

Setelah itu gua aja Diandra naik motor dan menyusuri jalanan Kota Jogja.

"Kita mau kemana sih?"

"Nggak kemana-mana, muter-muter aja. Hahaa."

"Hiih kirain mau main kemana? Kalau cuma mau muter- muter gini terus mau ngapain?

"Ya nggak ngapa-ngapain, cuma kangen pengen ngobrol aja sama kamu."

"Lahh.. Kalau cuma mau ngobrol kan bisa sambil duduk di cafe tadi, kalau di jalan gini kan malah dingin."

"Yaudah aku berhenti di depan situ ya."

Saya menghentikan motor di tepi jalan yang kebetulan di dekat situ ada penjual wedang ronde dan saya langsung pesan dua porsi. Kami duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu.

"Nih, biar nggak dingin." Kata saya sambil menyuguhkan wedang ronde ke Diandra.

"Hihh.. Kalau nanti aku minum ini jadi kembung."

"Yaudah sini kalau nggak mau."

"Mauu.."

"Katanya tadi nggak mau."

"Aku tadi cuma bilang jadi kembung bukan nggak mau."

"Iya-iya deh, hihh capek ngomong sama kamu tuh."

"Yaudah diem aja kalau capek."

Seperti mematuhi komando dari jendral perang, saya langsung diam sambil menikmati wedang ronde. Duduk di kursi kayu di tepi jalan sambil menikmati wedang ronde, bercanda dan berbincang-bincang tentang banyak hal.

Dari kejadian waktu itu, ada hal yang saya sadari bahwa ketika kita sedang ada masalah akan lebih baik jika langsung kita hadapi dan kita selesaikan. Bukannya justru saling diam dan membiarkan masalah itu berlarut-larut. Mungkin memang tidak semua orang bisa berkomunikasi dengan cara yang sama seperti yang kami lakukan.

Tapi buat saya sendiri lebih nyaman jika ada masalah dan langsung dihadapi. Hal yang paling saya sayangkan pada waktu itu adalah ketika Diandra melampiaskan kesedihan dan masalahnya di status aplikasi messenger. Dan saya sebagai orang terdekatnya merasa gagal untuk membantu dia memberikan solusi saat menghadapi masalah. Lalu dalam hati saya tiba-tiba terucap "lalu apa artinya kami menjalin relationship jika ada masalah tapi tidak dihadapi bersama". Jadi sejak saat itu saya berusaha agar ketika Diandra atau kami sedang ada masalah maka, saat itu juga akan kami bicarakan bersama. Seandainya saat itu tidak mendapat solusinya, setidaknya dengan berbicara dan saling bercerita bisa meringankan masalahnya.